Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02956/PP/M.VIII/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT ABC

Jenis Usaha :

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 2001

Pokok Sengketa :

1.   Koreksi positif biaya overhead

2.   Koreksi positif biaya PTT

3.   Koreksi positif biaya perjalanan  dinas

4.   Koreksi negatif bunga pinjaman

1.   Koreksi biaya overhead

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi  biaya tersebut  karena Pemohon  membebankan biaya pihak lain (beban  PT X) dan terdapat biaya entertainment.

Koreksi   Terbanding    telah   memenuhi    ketentuan    undang-undang   yang   berlaku, sepanjang tidak ditemukan data lain koreksi tetap dipertahankan.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Atas  pengeluaran  untuk  pihak  lain  ini Pemohon  perhitungkan  di tahun  2002  dalam bentuk  pengurangan/potongan pembayaran  hutang  kepada  pihak  yang bersangkutan yang  Pemohon  akui  sebagai  pendapatan,   atas  biaya  entertainment  Pemohon  telah membuat daftar nominatif.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dari  bukti  yang  diberikan   oleh  Pemohon   berupa  perincian   pembelian   kayu  yang merupakan  pengeluaran  untuk  pihak  lain dan telah  Pemohon  perhitungkan  di tahun 2002 dalam bentuk pengurangan/potongan pembayaran hutang kepada pihak yang bersangkutan  yang Pemohon akui sebagai pendapatan.

Berdasarkan bukti perincian pembelian kayu, perjanjian jual beli kayu, ledger yang disampaikan  dan penjelasan  Pemohon,  Terbanding  dapat  menerima  pembuktian  dan penjelasan Pemohon.

Mengenai  biaya  entertainment merupakan  biaya  pengurusan  kayu  yang  ditahan  dan Pemohon telah memberikan  daftar nominatif dan bukti pengeluaran  kas.

Dari bukti yang diberikan oleh Pemohon berupa daftar nominatif dan bukti pengeluaran kas  pada   tanggal   15  Nopember   2001   Terbanding   dapat   menerima   pembuktian tersebut.

Berdasarkan  bukti-bukti  serta penjelasan  Pemohon dan Terbanding  dalam persidangan atas  koreksi  positif  biaya  overhead,   Terbanding   dapat  menerima   pembuktian   dari Pemohon dengan demikian koreksi biaya overhead tidak dapat dipertahankan.

2.   Koreksi positif biaya PTT

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Tidak  ada  kepastian  bahwa  beban  tersebut  digunakan  semata-mata  untuk  kegiatan usaha.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Handphone   memang   semata-mata   dipergunakan   untuk   keperluan   bisnis   dimana mobilitas  seseorang  sangat  diperlukan,  pada  saat  dirumah  HP  tersebut  senantiasa dimatikan Pemohon karena privacy Pemohon tidak ingin terganggu.

Karena   masalah   ini   merupakan    sengketa   yang   senantiasa    timbul   pada   saat pemeriksaan  baru pada tahun 2002, Direktur  Jenderal  Pajak mengeluarkan SE bahwa penggunaan  HP dapat diakui 50% nya.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Koreksi  positif  biaya  PTT  berdasarkan   bukti-bukti   serta  penjelasan   Pemohon   dan Terbanding   dalam  persidangan   dan  berdasarkan   SE-09/PJ.42/2002  tanggal  17  Mei 2002  atas  biaya  berlangganan   atau  pengisian  pulsa  dan  penerbitan  telepon  seluler tersebut dapat dibebankan  sebagai sebagai biaya rutin sebesar 50%.

Ketentuan   sebagaimana   diatur  dalam  keputusan   Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : KEP-220/PJ.42/2002   tanggal   18   April   2002   berlaku   untuk   pengeluaran    biaya pemakaian   telepon   seluler  dan  kendaraan   perusahaan   yang  dilakukan   pada  dan setelah  tanggal  18 April 2002,  adapaun  perlakuan  pajak terhadap  pengeluaran/biaya pemakaian  telepon  dan  kendaraan  perusahaan  yang  dilakukan  sebelum  tanggal  18April 2002 pada dasarnya adalah sama, kecuali mengenai  penetapan  beban biaya agar sedapat mungkin didasarkan  atas fakta yang sebenarnya.

Karena pemakaian  telepon seluler untuk tahun 2001, maka diperlakukan  sama sesuai dengan SE-09/PJ.42/2002 tanggal 17 Mei 2002.

Berdasarkan    bukti-bukti    dan   fakta-fakta,    maka    Terbanding    dapat    menerima pembuktian  Pemohon  dan  pengenaan  biaya  tersebut  dihitung  kembali  berdasarkan SE-09/PJ.42/2002 tanggal 17 Mei 2002. Atas biaya berlangganan  atau pengisian  pulsa dan penerbitan  telepon seluler tersebut  dapat dibebankan  sebagai sebagai biaya rutin sebesar 50%, karenanya Majelis berkesimpulan koreksi tersebut dikabulkan  sebagian.

3.   Koreksi positif biaya perjalanan  dinas

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi  ini terdiri  dari  biaya  menghadiri  sidang  BPSP,  bahwa  beban  biaya  ini tidak termasuk  ke dalam  beban  biaya  konsultan  yang  telah  dikenakan  PPh  Pasal  21 dan biaya perjalanan  dinas ke Lombok, beban biaya ini dikoreksi mengingat  Pemohon tidak mempunyai  kaitan usaha di daerah tersebut.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Ini adalah pengeluaran  biaya persidangan  ke Jakarta  untuk proses banding,  biaya ini benar-benar  timbul dalam tahun 2001, dan untuk memperkuat  argumentasi,  Pemohon telah memperoleh  surat penegasan dari Direktur Peraturan Perpajakan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Pemohon  memberikan   bukti-bukti  berupa  bukti  pengeluaran   kas,  kuitansi  dan  dari bukti tersebut Terbanding  dapat menerimanya  .

Berdasarkan   bukti-bukti  dan fakta-fakta  serta keterangan  Pemohon  dan Terbanding, Majelis berkesimpulan atas koreksi positif biaya perjalanan dinas dapat dibiayakan sebagaimana  dimaksud  Pasal  6 ayat  (2) a Undang-undang Nomor    17 Tahun  2001 sehingga koreksi Terbanding  tidak dapat dipertahankan.

4.   Koreksi negatif biaya bunga pinjaman

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi tersebut berasal dari pembebanan  bunga atas cadangan dana yang merupakan pinjaman oleh pemegang saham kepada perusahaan.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Pada kenyataannya tidak pernah terjadi pembayaran  bunga kepada pemegang  saham, jelas  bila  diikuti  dari  flow  keuangan  (kas/bank)  tidak  pernah  terdapat  pengeluaran dana sejumlah itu.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Menurut   Terbanding  koreksi  tersebut  merupakan  pembebanan  bunga atas cadangan modal  yang  merupakan  pinjaman  oleh  pemegang  saham  kepada  perusahaan  sesuai surat Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : S-165/PJ.312/ 1992 tanggal  7 Mei 1992  atas pinjaman tersebut dikenakan bunga.

Berdasarkan  penelitian  terhadap  data dan bukti-bukti  pendukung  yang diberikan  oleh Pemohon diketahui hal-hal sebagai berikut :

Dari laporan  keuangan  tahun  2000 cadangan  modal  tidak ada dan pada tahun  2001 menjadi  Rp1.655.710.000,00 dan telah dilakukan  pengembaliannya pada akhir tahun 2001  sehingga  pada  tahun  2002  dan  tahun  2003  cadangan  modal  di neraca  sudah tidak ada lagi.

Berdasarkan  perkembangan account cadangan modal pada ekuitas Pemohon, diketahui bahwa   cadangan   modal   tersebut   telah   dikembalikan    kepada   pemegang   saham sehingga  Majelis  berkesimpulan cadangan  modal  yang disetor  oleh pemegang  saham tersebut  merupakan   pinjaman  kepada  perusahaan   bukan  merupakan   penambahan modal yang disetor.

Mengenai  surat  Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : S-165/PJ.312/ 1992  tanggal  7 Mei 1992  atas  pinjaman  tanpa  bunga  dari  pemegang  saham  dapat  dianggap  wajar  dan tidak perlu dilakukan koreksi apabila :

1.1.   Pinjaman  tersebut berasal dari dana milik pemegang  saham pemberi    pinjaman itu sendiri dan bukan berasal dari pihak lain.

Berdasarkan akte notaris diketahui bahwa pemegang saham Pemohon adalah perseorangan  yaitu Sdr. X dan Sdr. Y.

Pemohon  memberikan  rekening  koran  bank  atas nama  Sdr. X dan Sdr. Y dan bukti pengeluaran kas serta bukti penerimaan kas/bank setoran dana kepada Pemohon.

Dari penelitian rekening koran bank atas nama Sdr. X dan bukti pengeluaran  kas dan bukti penerimaan  kas/bank  terbukti  bahwa  cadangan  dana yang diberikan berasal dari pemegang saham.

2.1.   Modal yang seharusnya  disetor oleh pemegang  saham pemberi pinjaman kepada perusahaan  penerima pinjaman telah disetor seluruhnya.

Pemohon   memberikan   bukti  penerimaan   kas/bank   diketahui   bahwa  setoran cadangan  modal tersebut  secara tunai telah disetor dari pemegang  saham yang bersangkutan  .

Berdasarkan  akte  notaris  dan  laporan  keuangan  2001  diketahui  bahwa  modal saham  sebesar  Rp800.000.000,00 atau 8.000  lembar  saham  dan telah  disetor penuh seluruhnya dengan uang tunai kepada Pemohon oleh masing-masing pemegang saham.

3.1.   Pemegang saham pemberi pinjaman tidak dalam keadaan merugi .

Berdasarkan   bukti  SPT  Tahunan   PPh  WP  Orang  Pribadi   1770  tahun  2001 diketahui  bahwa PPh yang kurang bayar adalah sebesar  Rp x2 sehingga  Sdr. X selaku pemegang saham dalam keadaan untung.

4.1.   Perusahaan  penerima  pinjaman  sedang  mengalami  kesulitan  keuangan    untuk kelangsungan  usahanya.

Berdasarkan   SPT  Tahunan   Pajak  Penghasilan   WP  Badan  1771  tahun  2000 diketahui   rugi  fiskal  adalah  Rp  x3,  maka  pada  awal  tahun  2001  terdapat pinjaman dari pemegang saham tanggal 19 Januari 2001.

Terhadap pinjaman dari pemegang saham  tersebut telah dikembalikan  Pemohon pada tanggal 26 Juli 2001 dengan bukti rekening koran HSBC.

Berdasarkan   data   dalam   laporan   pemeriksaan   pajak   nomor   :  LAP-105/WPJ.10/ RP.03/2002   tanggal   6  Agustus   2002,  pemeriksa   menyatakan   bahwa   perusahaan tersebut    sampai    dengan    saat   pemeriksaan    masih    dalam    pengawasan    BPPN sehubungan   dengan  hutangnya   kepada  bank  yang  masih  belum  dibayar  sehingga memang dalam keadaan merugi.

Berdasarkan    hasil   pemeriksaan    atas   bukti-bukti   dan   penjelasan   Pemohon   dan Terbanding yang terungkap dalam persidangan, Majelis berpendapat bahwa setoran cadangan  modal  kepada  perusahaan  dianggap  wajar  dan  telah  memenuhi  keempat unsur dalam surat Direktur Jenderal Pajak Nomor : S-165/PJ.312/ 1992 tanggal 7 Mei 1992, dengan  demikian  Majelis  berketetapan  koreksi  Terbanding  atas koreksi  negatif biaya bunga pinjaman tidak dapat dipertahankan .

www.pengadilanpajak.com

No comments yet.

Leave a comment