Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02260/PP/M.II/15/2004

0 comments

Posted on 4th October 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Pemohon Bading          : PT ABC

Jenis Pajak                 : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak               : 2000

Pokok Sengketa          : 1.   Koreksi penjualan  lokal

2.   Koreksi penjualan  ekspor

3.   Koreksi discount

4.   Koreksi pemakaian  bahan baku

5.   Koreksi biaya pengobatan  dan biaya reparasi kendaraan

6.   Koreksi biaya reparasi mesin

7.   Koreksi biaya reparasi bangunan

8.   Koreksi biaya reparasi perlengkapan

9.   Koreksi biaya penyusutan

10. Koreksi biaya kantor pabrik

11. Koreksi harga pokok pemancangan fibredrain

12. Koreksi biaya bunga dan royalti

13. Koreksi biaya pengobatan

14. Koreksi biaya telepon

15. Koreksi biaya jamuan tamu pada biaya umum dan administrasi

16. Koreksi biaya iuran keanggotaan pada biaya umum dan administrasi

17. Koreksi biaya perjalanan  dinas

18. Koreksi biaya jamuan tamu pada biaya penjualan

19. Koreksi biaya iuran keanggotaan pada biaya penjualan

20. Koreksi biaya ekspor

21. Koreksi laba selisih kurs

1.   Koreksi Penjualan  lokal sebesar Rp 223.425.000,00

Menurut Terbanding     : Koreksi dilakukan  karena terdapat  penjualan  lokal yang sudah dilaporkan  dalam Surat Pemberitahuan Masa  Pajak  Pertambahan  Nilai  tetapi  belum  dilaporkan  dalam  Surat Pemberitahuan Tahunan  Pajak  Penghasilan  Badan  sesuai  dengan  rekonsiliasi  omset Pajak Pertambahan  Nilai dengan Pajak Penghasilan  Badan.

Dari hasil pemeriksaan  atas kartu stock diketahui  bahwa  karung  gula 36.000  lembar dan 18.000 lembar tercatat telah keluar sehingga seharusnya  dalam neraca juga harus dicatat sebagai penjualan karung gula.

Menurut Pemohon        : Koreksi   penjualan   lokal   bulan   Desember   2000   belum   dilaporkan,   tetapi   sudah dilaporkan  dalam  Surat  Pemberitahuan Masa  Pajak  Pertambahan  Nilai  Masa  Januari

2001  dengan nilai :

Atas nama DEF 36.000 lembar karung gula                             Rp  148.909.091,00

Atas nama GHI 18.000 lembar karung gula                             Rp    74.454.545,00

Jumlah                                                                                Rp  223.363.636,00

Telah  membuat   faktur  pajak  atas  barang-barang  yang  dalam  buku  stock  dicatat sebagai “barang keluar” walaupun barang tersebut belum dibayar.

Selisih peredaran usaha penjualan lokal antara Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan   Nilai   dan  Surat   Pemberitahuan  Tahunan   Pajak   Penghasilan   Badan sebesar  Rp.223.425.000,00  karena  terdapat  penjualan  lokal  bulan  Desember  tahun

2000  yang  mana  Pajak  Keluarannya   jatuh  tempo  pada  bulan  Januari,  dan  telah dilaporkan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan  Nilai Januari 2001.

Pendapat Majelis         : Berdasarkan  hasil pemeriksaan  atas data-data  berupa rekapitulasi  daftar faktur pajak, faktur  pajak  kepada  FA  DEF,  faktur  pajak  kepada  UD  GHI,  kartu  stock,  laporan persediaan   barang   jadi,  Surat  Pemberitahuan  Tahunan   Pajak  Penghasilan   Badan beserta   lampirannya,   terbukti   tidak  terdapat   penjualan   sebanyak   54.000   lembar karung, masih termasuk  dalam jumlah stock yang dilaporkan  dalam laporan keuangan tahun 2000.

Oleh  karena  Terbanding  hanya  melakukan  koreksi  pada  penjualan  tanpa  melakukan koreksi pada persediaan  barang maka Majelis berkesimpulan terdapat cukup bukti dan alasan koreksi tersebut tidak dapat dipertahankan.

2.   Koreksi penjualan  ekspor sebesar Rp 19.840.061,00

Menurut Terbanding     : Koreksi   penjualan   ekspor   sebesar   Rp.19.840.061,00  dilakukan   karena   terdapat penjualan ekspor yang belum dilaporkan sesuai dengan bukti PEB.

Dari hasil penelitian  juga diketahui pada tanggal 21 Oktober 2000 dilakukan  penjualan dengan nilai US$ 50,00 dengan kurs Rp.8.893,00  kepada The JKL Corp., yang menurut Pemohon transaksi tersebut adalah pengiriman  sample, walaupun berupa sample tetap merupakan  penjualan sehingga harus dipungut pajaknya.

Menurut Pemohon        : Koreksi  terjadi  karena  ada  peerbedaan   kurs  yang  digunakan.   Untuk  menghitung penjualan ekspor tersebut digunakan kurs KMK.

Atas sengketa  sebesar  US$ 50,00  adalah  merupakan  barang  sample  yang  tidak  ada nilai komersialnya  sehingga seharusnya  tidak termasuk sebagai penjualan.

Pendapat Majelis          : Kurs  yang  dipergunakan  untuk  pencatatan  transaksi  dalam  pembukuan  adalah  kurs transaksi, dalam hal ini adalah kurs tengah Bank Indonesia.

Karena kurs berkala yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan kegunaannya   adalah  untuk  pembayaran   pajak,  bukan  untuk  pencatatan   transaksi dalam  pembukuan,  maka  Majelis  berkesimpulan terdapat  cukup  bukti  koreksi  yang dilakukan telah sesuai dengan ketentuan dan tetap dipertahankan.

Atas pengiriman barang sample sebesar US$ 50.00 dari hasil pemeriksaan dalam persidangan dan penelitian terhadap bukti-bukti yang diserahkan Pemohon, Majelis berpendapat   cukup  bukti  bahwa  pengiriman  tersebut  benar  merupakan  pengiriman barang contoh sehingga Majelis memutuskan  atas koreksi penjualan  ekspor dikabulkan sebagian  sehingga  koreksi  menjadi  sebesar  Rp.19.395.411,00 dan  sebesar Rp.444.650,00 tidak dapat dipertahankan.

3.   Koreksi discount sebesar Rp 194.100.000,00

Menurut Terbanding     : Koreksi    discount    sebesar    Rp.    194.100.000,00   terjadi    karena    tidak    jelas penghitungannya dan  tidak ada bukti ekstern.

Menurut Pemohon        : Discount  diberikan  kepada  pembeli  setelah  pembeli  melakukan  pembayaran   penuh atas pembelian,  dengan demikian  pemberian  discount  tidak terlihat pada faktur pajak tetapi tercantum pada ledger.

Pendapat Majelis          : Pemohon  menyerahkan  bukti-bukti  berupa setoran  uang melalui bank, nota potongan penjualan, dan bukti pengeluaran  uang.

Setelah   Terbanding   meneliti   bukti-bukti   yang   diperlihatkan   Pemohon,   mengakui terbukti memang terdapat pembayaran  kepada MNO sebagai pembayaran  disount.

Dari  hasil  pemeriksaan   dan  pembuktian   dalam  persidangan   serta  penelitian   atas bukti-bukti   yang   diserahkan   Pemohon   diketahui   bahwa   discount   yang   diberikan sebenarnya  adalah  pembayaran  komisi  kepada  MNO  sebagai  jasa  mencari  pembeli sesuai dengan perjanjian yang dilakukan antara Pemohon dengan MNO.

Berdasarkan  keterangan  tersebut  di atas, atas jasa perantara  yang diberikan  kepada MNO  termasuk  dalam  unsur  penjualan,  dengan  demikian  Majelis  memutuskan  atas koreksi discount tersebut, tidak dapat dipertahankan.

4.   Koreksi pemakaian  bahan baku sebesar Rp 352.198.115,00

Menurut Terbanding     : Angka pembelian bahan baku dikoreksi karena Pemohon terlalu besar melaporkannya.

Menurut Pemohon        : Untuk   pembelian   bahan   baku  impor,   dari  jumlah   yang  dilaporkan   dalam   Surat Pemberitahuan Masa  Pajak  Pertambahan  Nilai  terdapat  biaya  yang  belum diperhitungkan, sehingga Terbanding  hanya menghitung  harga barang yang tercantum dalam  PIB,  sedangkan  yang  sebenarnya  ada  biaya  lain  berupa  biaya  inklaring  dan biaya pelayaran.

Pendapat Majelis          : Pembelian bahan baku terdiri dari :

Pembelian bahan baku lokal                                            Rp       76.675.183,00

Pembelian bahan baku impor                                          Rp  3.333.478.115,00

Jumlah pembelian bahan baku cfm Terbanding                 Rp  3.410.153.298,00

Jumlah pembelian bahan baku cfm Pemohon                    Rp  3.762.351.413,00

Koreksi                                                                          Rp      352.198.115,00

Dari hasil penelitian atas berkas banding dan data-data yang ditunjukkan  dalam sidang serta  keterangan  kedua  belah  pihak,  Majelis  berkesimpulan bahwa  untuk  pembelian bahan  baku lokal sebesar  Rp.76.675.183,00, Pemohon  setuju  atas perhitungan  yang dilakukan  Terbanding  dan  atas  pembelian  bahan  baku  impor  sebesar Rp.3.33.478.115,00 Terbanding  setuju penambahan  biaya-biaya  berupa :

THL dan B/L Rp 107.441.245,00
Inklaring Rp 95.135.540,00
Komisi bank atas impor Rp 17.187.135,00

Premi asuransi                                                                Rp       1.129.109,00

Jumlah                                                                           Rp     220.893.029,00

Dengan demikian pembelian bahan baku impor menjadi sebesarRp.3.554.371.144,00. Berdasarkan  hal tersebut  di atas, maka  Majelis  memutuskan  bahwa  atas pemakaian

bahan baku dihitung kembali menjadi sebesar Rp.3.631.046.327,00, dengan demikian

atas koreksi bahan baku dikabulkan  sebagian menjadi sebesar Rp.131.305.086,00 dan sebesar Rp.220.893.029,00 tidak dapat dipertahankan.

5.   Koreksi  biaya  pengobatan  sebesar  Rp 39.423.188,00 dan  biaya  reparasi sebesar Rp 8.332.891,00

Menurut Terbanding     : Biaya  pengobatan   merupakan   pemberian   natura  kepada  karyawan   sehingga  tidak dapat  dibiayakan  sesuai  dengan  Pasal  9 ayat (1) huruf  e Undang-undang Nomor  10

Tahun  1994 dan biaya reparasi  kendaraan  adalah  untuk  reparaasi  kendaraan  pribadi sehingga tidak dapat dibiayakan.

Menurut Pemohon        : Biaya  pengobatan  merupakan  biaya  tunjangan  pengobatan  bagi  karyawan  dan telah diperhitungkan  dalam  Pajak  Penghasilan  Pasal  21  dan  biaya  reparasi  adalah  biaya perbaikan forklift yang digunakan untuk keperluan usaha.

Pendapat Majelis          : Atas  biaya  pengobatan  dan  biaya  reparasi  kendaraan,  Pemohon  setuju  atas  koreksi yang dilakukan Terbanding.

Berdasarkan   keterangan   tersebut  di  atas,  Majelis  memutuskan   atas  koreksi  biaya pengobatan  dan koreksi biaya reparasi kendaraan,  tetap dipertahankan.

6.   Koreksi biaya reparasi mesin

Menurut Terbanding     : Biaya  reparasi  mesin  tidak  dapat  dikurangkan  sekaligus  harus  melalui  penyusutan, karena pengeluaran biaya tersebut adalah biaya untuk membeli alat-alat mesin dan menambah  masa manfaat dari mesin yang bersangkutan.

Menurut Pemohon        : Biaya tersebut adalah untuk membeli baut, karet dan besi yang setiap tahunnya harus diganti, sehingga merupakan  biaya rutin yang harus dikeluarkan.

Pendapat Majelis          : Berdasarkan  pemeriksaan  atas  data-data  yang  terdapat  dalam  berkas  banding  dan penelitian  atas bukti-bukti  yang diajukan serta keterangan  kedua belah pihak, terbukti

bahwa  biaya  reparasi  mesin  merupakan  biaya  pemeliharaan   rutin  yang  dikeluarkan sehari-hari  untuk memelihara  jalannya mesin dan mempertahankan agar mesin-mesin tersebut berfungsi dengan baik.

Biaya  tersebut   merupakan   biaya  untuk   mendapatkan,  menagih   dan  memelihara penghasilan yang dikeluarkan secara rutin setiap tahun, dengan demikian Majelis berkesimpulan  dapat  dibiayakan   dalam  dalam  tahun  yang  bersangkutan   sehingga koreksi biaya reparasi mesin, tidak dapat dipertahankan.

7.   Koreksi biaya reparasi bangunan

Menurut Terbanding     : Biaya reparasi bangunan  tidak dapat dikurangkan  sekaligus  harus melalui penyusutan, karena biaya tersebut  adalah untuk memperbaiki  kerusakan  gedung  dan hal tersebut menambah  masa manfaat bangunan yang bersangkutan.

Menurut Pemohon        : Biaya  tersebut  adalah  untuk  membetulkan  atap yang  bocor  dan pembetulan  lainnya yang merupakan  biaya rutin yang harus dikeluarkan.

Pendapat Majelis          : Berdasarkan  pemeriksaan  atas  data-data  yang  terdapat  dalalm  berkas  banding  dan penelitian  atas bukti-bukti  yang diajukan  seta keterangan  kedua belah pihak, terbukti bahwa biaya reparasi bangunan merupakan  biaya pemeliharaan  rutin yang dikeluarkan sehari-hari  untuk  memelihara  dan  mempertahankan agar  bangunan  dapat  berfungsi dengan baik.

8.   Koreksi biaya reparasi perlengkapan

Menurut Terbanding     : Dari   hasil   penelitian    atas   bukti-bukti    yang   ditunjukkan    Pemohon,    Terbanding berpendapat  bahwa  biaya  reparasi  perlengkapan  tersebut  menambah  masa  manfaat dan jumlahnya relatif besar sehingga tidak dapat dibiayakan sekaligus.

Menurut Pemohon        : Biaya-biaya  tersebut  jumlah  kecil-kecil  tetapi terdiri  dari beberapa  item, sehinga  jika dijumlah  keseluruhan   akan  menjadi  besar  dan  merupakan  biaya  rutin  yang  harus dikeluarkan  setiap tahunnya.

Pendapat Majelis          : Berdasarkan  pemeriksaan  atas  data-data  yang  terdapat  dalam  berkas  banding  dan penelitian  atas bukti-bukti  yang diajukan serta keterangan  kedua belah pihak, terbukti bahwa   biaya   reparasi   perlengkapan   merupakan   biaya   pemeliharaan   rutin   yang dikeluarkan sehari-hari untuk memelihara dan mempertahankan agar perlengkapan tersebut berfungsi dengan baik.

Biaya   tersebut    adalah   biaya   untuk   mendapatkan,   menagih    dan   memelihara penghasilan yang dikeluarkan secara rutin setiap tahun, dengan demikian Majelis berkesimpulan  dapat  dibiayakan  dalam  tahun  yang  bersangkutan   sehingga  koreksi biaya reparasi perlengkapan, tidak dapat dipertahankan.

9.   Koreksi biaya penyusutan

Menurut Terbanding     : Biaya  penyusutan  dikoreksi  negatif  karena  berdasarkan  penghitungan  kembali  yang berkaitan    dengan   koreksi   positif   pada   biaya   reparasi   mesin,   bangunan    dan perlengkapan.

Menurut Pemohon        : Tidak setuju dengan koreksi negatif penyusutan  karena koreksi tersebut adalah akibat dari dikoreksinya  biaya-biaya  reperasi mesin, bangunan dan perlengkapan.

Pendapat Majelis          : Berdasarkan  pemeriksaan  atas  data-data  yang  terdapat  dalam  berkas  banding  dan penelitian  atas bukti-bukti  yang diajukan  serta keterangan  kedua belah pihak, Majelis berpendapat  karena  biaya  reparasi  mesin,  bangunan  dan  perlengkapan   merupakan biaya  yang  dapat  dibebankan   dalam  tahun  yang  bersangkutan,  dengan  demikian Majelis memutuskan  atas koreksi negatif biaya penyusutan,  tidak dapat dipertahankan.

10. Koreksi biaya kantor pabrik

Menurut Terbanding     : Biaya  kantor  pabrik  dikoreksi  karena  tidak  untuk  keperluan  karyawan  Pemohon  dan jika  untuk  melihat  kualitas  barang  yang  diproduksi  Pemohon  bukanlah  sebelumnya telah   ada   pengiriman   barang   contoh   yang   dikirimkan   kepada   pembeli,   dengan demikian jika masih ada biaya lain (untuk penginapan  dan tiket ) maka biaya tersebut termasuk kenikmatan  sehingga tidak dapat dibiayakan.

Menurut Pemohon        : Biaya tersebut adalah biaya akomodasi  Tn. PQR (untuk kontrol barang hasil produksi).

Tn.PQR  adalah  orang yang ditunjuk  oleh pembeli  untuk melihat  kualitas  barang  yang akan  dibeli,  sesuai  dengan   perjanjian   dengan   STU  University   Of  Singapore   dan Agreement Pemohon degan The JKL Corporation.

Pendapat Majelis          : Dalam persidangan  Pemohon menunjukkan  bukti berupa : general ledger (biaya kantor pabrik, bukti pengeluaran uang dan kuitansi, agreement Pemohon dengan The JKL Corporation,  tagihan dari Hotel A, perjanjian dengan STU University Of Singapore.

Berdasarkan  pemeriksaan  atas  data-data  yang  terdapat  dalam  berkas  banding  dan penelitian  atas bukti-bukti  yang diajukan  serta keterangan  kedua belah pihak terbukti sesuai  dengan  perjanjian  antara  Pemohon  dengan  The  JKL  Corporation  dinyatakan bahwa   Pemohon    berkewajiban    menanggung    segala   biaya   yang   timbul   untuk mengontrol  barang-barang yang akan dibeli oleh The JKL Corporation  yaitu Tn. PQR, dengan  demikian  Majelis  berkesimpulan biaya  yang  dikeluarkan  untuk  keperluan  Tn. PQR tersebut  dapat dibiayakan  sehingga  koreksi atas biaya kantor pabrik, tidak dapat dipertahankan.

11. Koreksi harga pokok pemancangan fibredrain

Menurut Terbanding     : Koreksi dilakukan  karena tidak ada bukti-bukti  pendukung  dan di dalam invoice biaya tersebut tidak terlihat.

Menurut Pemohon        :

Biaya  tersebut  adalah  biaya  untuk  pengiriman  fibredrain,  biaya  selama  perjalanan untuk  mengawasi   fibredrain   tersebut   dan  biaya  untuk  pengawasan   berupa  biaya perjalanan  dinas karyawan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  persidangan   Pemohon  memperlihatkan  bukti-bukti   berupa  :  general  ledger (perjalanan   dinas  karyawan),   bukti  pengeluaran   uang,  bukti  pembayaran   kepada Interlink, album foto pemancangan  fibredrain,  surat perintah mulai kerja, serah terima pekerjaan,     berita    acara    pembayaran     angsuran,     sertifikasi     bulanan    proyek pembangunan  jalan  lingkar,  bukti  penerimaan   uang  atas  pekerjaan  vertical  drain, Surat   Setoran   Pajak   Pajak   Penghasilan    dan   Pajak   Pertambahan    Nilai   beserta lampirannya,  bukti penerimaan  uang dari Dinas PU VWX, rekening  pengeluaran  dalam rangka pemancangan  fibredrain.

Dari hasil penelitian  atas bukti yang diserahkan  Pemohon diketahui terdapat pekerjaan pembangunan jalan lingkar Sidoarjo selama 45 hari kerja.

Dari bukti-bukti  yang diserahkan  Pemohon  berupa biaya transportasi  Jakarta-Sidoarjo, biaya  akomodasi  karyawan  dalam  rangka  proyek  Sidoarjo  dan  biaya  perlengkapan untuk  pemancangan   fibredrain  dalam  pembangunan  lingkar  jalan  Sidoarjo  terbukti biaya tersebut adalah berkaitan dengan proyek pemancangan  fibredarin.

Berdasarkan  pemeriksaan  atas  data-data  yang  terdapat  dalam  berkas  banding  dan penelitian atas bukti-bukti  yang diajukan serta keterangan  kedua belah pihak, terdapat cukup  bukti  pendukung  atas harga  pokok  pemancangan  fibredrain,  dengan  demikian atas koreksi harga pokok pemancangan  fibredarin, tidak dapat dipertahankan.

12. Koreksi biaya bunga dan royalti

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi terjadi karena Pemohon  tidak dapat membuktikan  dengan dokumen-dokumen pendukung.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  tersebut  merupakan  perbedaan  pada  saat  pembebanan  biaya  royalti  dan saat pembayaran  biaya  royalti  terdapat  perbedaan  nilai  kurs,  dan  untuk  perbedaan  nilai kurs tersebut telah diperhitungkan pada laba/rugi kurs.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Atas koreksi  biaya bunga  dan royalti  Pemohon  menyatakan  setuju  atas koreksi  yang dilakukan Terbanding.

Berdasarkan  hal tersebut  Majelis  memutuskan  atas koreksi  biaya  bunga  dan royalti, tetap dipertahankan.

13. Koreksi biaya pengobatan

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Biaya  pengobatan   merupakan   pemberian   natura  kepada  karyawan   sehingga  tidak dapat  dibiayakan  sesuai  dengan  Pasal  9 ayat (1) huruf  e Undang-undang Nomor  10 Tahun 1994.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  pengobatan  merupakan  biaya  tunjangan  pengobatan  bagi  karyawan  dan telah diperhitungkan dalam Pajak Penghasilan  Pasal 21.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Atas   biaya   pengobatan   tersebut,   Pemohon   setuju   atas   koreksi   yang   dilakukan Terbanding.

Berdasarkan   keterangan   tersebut  di  atas  Majelis  memutuskan   atas  koreksi  biaya pengobatan,  tetap dipertahankan.

14.    Koreksi biaya telepon

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi    biaya    telepon    dilakukan    karena    berdasarkan    hasil    penelitian    atas dokumen-dokumen    pendukung     yang    diserahkan     Pemohon     diketahui     bahwa pembayaran telepon tersebut adalah untuk kepentingan perseorangan bukan untuk kepentingan  perusahaan.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya telepon tersebut adalah untuk membayar  telepon Ir. B yang merupakan  direktur dan telepon staf bagian marketing.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  persidangan  Pemohon  memperlihatkan bukti-bukti  pendukung  berupa  : bukti pengeluaran  uang, pembayaran  rekening telepon atas nama Ir. B dan Sdr. C.

Dari hasil penelitian  atas data-data  yang ditunjukkan  Pemohon  diketahui  bahwa biaya tersebut  adalah  utuk  membayar  telepon  atas  nama  Ir. B dan  Sdr.  C dan  Pemohon tidak dapat membuktikan secara meyakinkan bahwa biaya telepon tersebut untuk kepentingan perusahaan dalam rangka mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan,    sehingga    Majelis   memutuskan    tidak   terdapat    cukup   bukti   yang mendukung  alasan  permohonan  banding,  sehingga  atas koreksi  biaya  telepon,  tetap dipertahankan.

15. Koreksi biaya jamuan tamu pada biaya umum dan administrasi

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Biaya tersebut tidak jelas peruntukkannya dan tidak ada bukti-bukti  pendukungnya.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  tersebut   adalah  dalam  rangka  membina   hubungan   dengan   rekanan   untuk memperoleh  dan meningkatkan penghasilan  usaha agar tetap berjalan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Berdasarkan   hasil  penelitian  atas  data-data  yang  diserahkan   Pemohon  atas  biaya jamuan  tamu  sebesar  Rp.6.994.711,00  Terbanding  dapat  mengakui  sebagai  biaya, tetapi atas biaya sebesar  Rp.6.307.267,00 tidak dapat dibiayakan  karena  merupakan pemberian kenikmatan  yaitu pemberian bingkisan berupa parcel.

Berdasarkan  keterangan  tersebut di atas, Majelis berkesimpulan bahwa koreksi jamuan tamu sebesar Rp.6.944.711,00 dibatalkan dan sebesar Rp.6.307.267,00 tetap dipertahankan.

16. Koreksi biaya iuran keanggotaan pada biaya umum dan administrasi

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi biaya iuran keanggotaan  dilakukan karena merupakan  pemberian natura.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  iuran  keanggotaan   adalah  pembayaran   iuran  keanggotaan   Asosiasi  Produsen Karung   Indonesia   (APKI)   dan   iuran   keanggotaan   Asosiasi   Pengusaha   Indonesia (APINDO).

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalamm persidangan  Pemohon  memperlihatkan bukti-bukti  pendukung  berupa : Surat Keterangan  dari APKI yang menyatakan  bahwa  Pemohon  adalah  anggota  APKI, bukti pembayaran  iuran keanggotaan  APINDO, bukti pembayaran  iuran keanggotaan  APKI. Berdasarkan  penelitian  atas data-data yang diserahkan  Pemohon dn keterangan  dalam persidangan,   Majelis  berpendapat   bahwa  untuk  biaya  iuran  keanggotaan   sebesar Rp.1.920.000,00  dapat   dibiayakan   karena   berhubungan   dengan   usaha   Pemohon dengan   demikian   atas   koreksi   biaya   iuran   keanggotaan    tersebut,   tidak   dapat dipertahankan.

17.    Koreksi biaya perjalanan  dinas

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi   dilakukan    karena   biaya   perjalanan    dinas   tersebut   adalah   pemberian kenikmatan  dalam bentuk natura yang tidak dapat dibiayakan.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  perjalanan   dinas  adalah  biaya  untuk  hotel,  taxi  keluar  kota  dalam  rangka perjalanan dinas dan bukan pemberian kenikmatan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  sidang,  Pemohon  memberikan   bukti-bukti   pendukung   berupa  1  map  bukti penerimaan  uang dan bukti pengeluaran  uang beserta bukti-bukti  pendukungnya.

Berdasarkan   hasil   penelitian   atas   data-data   yang   diserahkan   Pemohon,   Majelis berpendapat biaya perjalanan dinas tersebut adalah pemberian dalam bentuk natura sehingga  tidak  dapat  dibiayakan,   dengan  demikian  koreksi  Terbanding   atas  biaya perjalanan dinas, tetap dipertahankan.

18. Koreksi biaya jamuan tamu pada biaya penjualan

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Biaya  jamuan  tamu  dikoreksi  karena  biaya  tersebut  tidak  jelas  peruntukkannya dan tidak dibuktikan dengan dokumen-dokumen pendukung.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  tersebut   adalah  dalam  rangka  membina   hubungan   dengan   rekanan   untuk memperoleh  dan meningkatkan penghasilan  usaha agar tetap berjalan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Berdasarkan   hasil  penelitian  atas  data-data  yang  diserahkan   Pemohon  atas  biaya jamuan  tamu  sebesar  Rp.14.275.346,00, Terbanding  dapat  mengakui  sebagai  biaya tetapi atas biaya sebesar  Rp.6.582.334,00 tidak dapat dibiayakan  karena  merupakan pemberian kenikmatan  yaitu pemberian bingkisan berupa parcel.

Berdasarkan  keterangan  tersebut di atas, Majelis berkesimpulan bahwa koreksi jamuan tamu sebesar Rp.14.275.346,00 dibatalkan dan sebesar Rp 6.582.334,00  tetap dipertahankan.

19. Koreksi biaya iuran keanggotaan pada biaya penjualan

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi biaya iuran keanggotaan  dilakukan karena merupakan  pemberian natura.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya  iuran  keanggotaan   adalah  pembayaran   iuran  keanggotaan   Asosiasi  Produsen Karung   Indonesia   (APKI)   dan   iuran   keanggotaan   Asosiasi   Pengusaha   Indonesia (APINDO).

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  persidangan  Pemohon  memperlihatkan bukti-bukti  pendukung  berupa  : Surat Keterangan  dari APKI yang menyatakan  bahwa  Pemohon  adalah  anggota  APKI, bukti pembayaran  iuran keanggotaan  APINDO, bukti pembayaran  iuran keanggotaan  APKI. Berdasarkan  penelitian  atas data-data yang diserahkan  Pemohon dn keterangan  dalam persidangan,  untuk biaya iuran keanggotaan  sebesar  Rp.500.000,00 dapat dibiayakan karena berhubungan  dengan usaha Pemohon dengan demikian atas koreksi biaya iuran keanggotaan  tersebut, tidak dapat dipertahankan.

20.    Koreksi biaya ekspor

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi    terjadi   karena   Pemohon    tidak   dapat   memberikan    dokumen-dokumen pendukung.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Biaya ekspor  adalah biaya dari hasil ekspor  yang dipotong  langsung  oleh pihak bank, pada saat Pemohon menerima hasil penjualan ekspor melalui bank.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Atas biaya ekspor  tersebut,  setelah  Terbanding  meneliti  bukti-bukti  yang ditunjukkan Pemohon, Terbanding  dapat mengakui sebagai biaya.

Berdasarkan   keterangan   tersebut  di  atas,  Majelis  memutuskan   atas  koreksi  biaya ekspor, tidak dapat dipertahankan.

21.    Koreksi laba selisih kurs

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi laba selisih kurs karena Pemohon kurang melaporkan  laba selisih kursnya.

Menurut Piahk Pemohon Atas Pengadilan Pajak : Sudah menghitung  sesuai dengan kurs yang berlaku yaitu kurs KMK.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Terbanding   menghitung   dengan  menggunakan  kurs  tengah  Bank  Indonesia,  tetapi Pemohon menghitung  dengan menggunakan kurs KMK.

Berdasarkan   keterangan   tersebut   di  atas,   untuk   menghitung   laba   selisih   kurs seharusnya kurs yang digunakan adalah kurs tengah Bank Indonesia sesuai degan penghitungan  yang  dilakukan  oleh  Terbanding,  dengan  demikian  koreksi  laba selisih kurs tetap dipertahankan.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02693/PP/M.VII/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT ABC

Jenis Usaha :

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 2000

Pokok Sengketa :

Koreksi   atas  biaya  bunga  pinjaman   yang  dananya   berasal   dari  pinjaman sebesar Rp2.298.901.237,00

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi  biaya  bunga  berdasarkan   Surat  Edaran  Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : SE-46/PJ.04/1995  tanggal   5  Oktober   1995,   karena   penempatan   deposito   yang dilakukan  oleh Pemohon  dananya  berasal  dari pinjaman  bank  (selain  dana  kas yang berasal dari laba ditahan) namun belum dimanfaatkan.

Pemohon   tidak  memberikan   jawaban  atas  permintaan   data  pendukung   keberatan sehingga   tidak  ada  bukti  yang  dapat  mendukung   sanggahan   Pemohon   terhadap koreksi Terbanding.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Penempatan   deposito   dalam   jangka   pendek   tersebut   dilakukan   atas  dana  yang sementara  belum  ditentukan  penggunaannya, dimana  dananya  berasal  dari sisa laba setelah kena pajak.

Pada  persidangan  menyampaikan bukti  pendukung  berupa  bagan  mutasi  pinjaman, mutasi   penarikan,   mutasi   pembayaran    dengan   disertai   bukti   penarikan,   bukti pembayaran,  penempatan  deposito.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Setelah  melakukan   penelitian  atas  penambahan   harta  (asset)  selama  tahun  2000 dalam  persidangan,   Terbanding  mengakui  bahwa  penambahan   harta  (asset)  tahun 2000  hanya  sebesar  ±  Rp40  milyar,  dengan  demikian  sisa  laba  tahun  1999  yang ditahan sebagian masih dalam bentuk kas/bank.

Berdasarkan  penelitian  Majelis  terhadap  bukti  yang  disampaikan  Pemohon  diketahui bahwa  sisa laba setelah  kena pajak pada tahun 1999 lebih besar dari pada rata-rata penempatan deposito/rata-rata deposito tahun 2000 sehingga Majelis berkeyakinan penempatan  deposito bukan berasal dari pinjaman tetapi berasal dari sisa laba setelah kena pajak, sehingga koreksi Terbanding terhadap bunga pinjaman tidak dapat dipertahankan.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02723/PP/M.VIII/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , ,

Contoh Kasus Putusan Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : BUT ABC Limited

Jenis Usaha : -

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 2000

Pokok Sengketa : 1.   Koreksi peredaran  usaha karena hasil konversi kurs

2.   Koreksi penghasilan  luar usaha berupa keuntungan  selisih kurs

3.   Koreksi kredit pajak Pajak Penghasilan Pasal 23

1.   Koreksi peredaran  usaha karena hasil konversi kurs

Menurut  Pihak Tergugat Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Koreksi  peredaran  usaha  disebabkan   penghitungan   kembali  jumlah  tagihan/invoice dalam  mata  uang  US$  dengan   mengkonversikan  berdasarkan   kurs  tengah   Bank Indonesia sesuai dengan tanggal tagihan, sebagai berikut :

Rp  112.274.081.838,00

Rp 124.381.070.149,00

Rp    12.106.988.311,00

dapat menerima sebagian alasan Pemohon berikut : Menurut Pemohon                       Rp  112.274.081.838,00

Menurut Terbanding        Rp  120.565.400.985,00

Koreksi                          Rp       8.291.319.147,00

Menurut Pihak Penggugat  Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Koreksi   peredaran   usaha   sebesar   Rp8.291.319.147,00,  hanya   diajukan   banding sebesar Rp2.501.305.861,00 dengan perhitungan  sebagai berikut :

Menurut Pemohon           Rp  118.064.095.124,00

Menurut Terbanding        Rp  120.565.400.985,00

Koreksi                          Rp       2.501.305.861,00

Tagihan  usaha  drilling  fee   dalam  mata uang asing US$ telah dikoversikan  ke dalam mata uang rupiah untuk mengetahui  besarnya  penghasilan  bruto yang menjadi  dasar untuk  menghitung  penghasilan  kena  pajak  dengan  penerapan  norma  penghitungan khusus  sebesar  15% dari penghasilan  bruto yang diperoleh  dari kegiatan  pengeboran minyak.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Berdasarkan    Pasal   15   Undang-undang   Nomor   10   Tahun   1994   tentang   Pajak Penghasilan,  yang  menyebutkan  “Menteri  Keuangan  dapat  mengeluarkan keputusan untuk  menetapkan  norma  penghitungan  khusus  guna  menghitung  penghasilan  neto dari wajib pajak tertentu yang tidak dapat dihitung berdasarkan  Pasal 16”

Keputusan    Menteri    Keuangan    Nomor    :   628/KMK.04/1991   mengenai    Norma penghitungan   khusus   penghasilan   neto  bagi  wajib  pajak  badan  yang  melakukan kegiatan  usaha  di  bidang  pengeboran  minyak  dan  gas  bumi  serta  angsuran  Pajak Penghasilan  dalam tahun berjalan oleh wajib pajak sendiri.

Surat  Edaran  Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : SE-21/PJ.31/1991 tentang  “Petunjuk pelaksanaan   Keputusan   Menteri   Keuangan   Nomor   :  628/KMK.04/1991  mengenai norma penghitungan  khusus penghasilan  neto dan Pajak Penghasilan  Pasal 25 Foreign Drilling Company”.

Berdasarkan     Pasal    3    ayat    (1)    Keputusan     Menteri     Keuangan     Nomor    : 628/KMK.04/1991,   terhadap   wajib   pajak   bentuk   usaha   tetap   kegiatan   usaha pengeboran minyak tidak diharuskan menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan ketentuan  perpajakan  yang berlaku  atas pertimbangan  penghitungan  besarnya  pajak terutang dilakukan melalui penerapan norma.

Yang menjadi dasar hukum penggunaan  kurs konversi berdasarkan  Keputusan  Menteri Keuangan untuk keperluan penghitungan Penghasilan Kena Pajak adalah :  seluruh Keputusan  Menteri Keuangan  mengenai  nilai kurs sebagai dasar pelunasan  Bea Masuk, Pajak  Pertambahan  Nilai Barang  dan Jasa Dan Pajak  Penjualan  atas Barang  Mewah, Pajak  Ekspor,  dan  Pajak  Penghasilan  yang  berlaku  sepanjang  tahun  2000,  di mana pada setiap bagian menimbang  menetapkan  : bahwa untuk keperluan   pelunasan  Bea Masuk,  Pajak  Pertambahan  Nilai  Barang  dan  Jasa  Dan  Pajak  Penjualan  atas  Barang Mewah,  Pajak Ekspor,  dan Pajak Penghasilan   atas pemasukan  barang,  hutang  pajak yang  berhubungan   dengan  Pajak  Pertambahan   Nilai  Barang  dan  Jasa  dan  Pajak Penjualan  atas  Barang  Mewah,  Pajak  Ekspor,  dan  penghasilan   yang  diterima  atau diperoleh berupa uang asing, harus terlebih dahulu dinilai ke dalam rupiah.

Keputusan  Menteri  Keuangan  Nomor  628/KMK.04/1991 serta  Surat  Edaran  Direktur Jenderal  Pajak  Nomor  : SE-21/PJ.31/1991 yang mengatur  bahwa  terhadap  Pemohon tidak  diwajibkan  untuk  menyelenggarakan pembukuan,  namun  demikian  tetap  harus menyelenggarakan    pencatatan   penghasilan    bruto    serta    pencatatan  atas pengeluaran-pengeluaran yang wajib dilakukan pemotongan  pajak.

Pemohon  menghitung  penghasilan  bruto dengan mengkonversikan nilai tagihan dalam US$  ke  mata   uang   rupiah   dengan   menggunakan  nilai  kurs  Keputusan   Menteri Keuangan.

Terbanding   tidak  memberikan   alasan  dan  dasar  hukum   yang  jelas  atas  koreksi peredaran  usaha  dengan  menghitung  ulang tagihan  (dalam  US$) menggunakan kurs tengah   Bank   Indonesia   sebagai   kurs   konversi   dan   tidak   menanggapi   argumen Pemohon  mengenai  penggunaan  kurs  konversi  yang  ditetapkan  secara  berkala  oleh Menteri Keuangan untuk menghitung  peredaran usaha.

Berdasarkan  hasil pemeriksaan  atas fakta-fakta,  bukti-bukti,  penjelasan  Pemohon  dan Terbanding  yang terungkap  dalam pers, penelitian  terhadap  berkas banding  dan hasil penelitian  data yang dilakukan,  Majelis berpendapat  bahwa penghitungan  penghasilan bruto   dari   tagihan/invoice  dalam   mata   uang   US$   yang   menjadi   dasar   untuk menghitung   Penghasilan   Kena  Pajak  dengan  norma  penghitungan   khusus  adalah dengan   mengkonversi  mata   uang   US$   ke   dalam   mata   uang   rupiah   sehingga perhitungan  Pemohon  dengan menggunakan nilai kurs Menteri Keuangan  sudah benar dan dengan demikian Majelis berketetapan atas koreksi peredaran usaha sebesar Rp2.501.305.861,00 tidak dapat dipertahankan, sedangkan sisanya sebesar Rp5.790.013.286,00 tetap dipertahankan.

2.   Koreksi penghasilan  luar usaha berupa keuntungan  selisih kurs

Menurut Terbanding    :   Sesuai   Pasal   4  ayat   (1)  Undang-undang  Nomor   7  Tahun   1983   tentang   Pajak Penghasilan    sebagaimana   telah  diubah  dengan    Undang-undang  Nomor  10  Tahun 1994, keuntungan  karena selisih kurs mata uang asing merupakan  objek pajak.

Koreksi  keuntungan  selisih  kurs  sebagai  unsur  penghasilan  kena  pajak,  berasal  dari nilai  tagihan  dalam  mata  uang  US$  yang  dikonversikan   dengan  kurs  tengah  Bank Indonesia  sesuai  tanggal  penerbitan  tagihan  dan  dibandingkan  dengan  nilai  tagihan sesuai  kurs  Bank  Indonesia  pada  saat  pembayaran   (realized  gain/loss),   ditambah dengan perbandingan  dengan kurs pada akhir tahun atas tagihan yang belum dibayar (unrealized  gain/loss).

Dilakukan  hal  tersebut  atas  dasar  Surat  Edaran  Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : SE-21/PJ.31/1991 yang menyatakan  bahwa :

Selain penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usahanya di bidang pengeboran   minyak   dan   gas   bumi,   bentuk   usaha   tetap   dapat   menerima   atau memperoleh  penghasilan  lain seperti :

a.   Penghasilan  berupa  sewa dari harta yang dimilikinya  baik yang disewakan  untuk digunakan di Indonesia maupun di luar Indonesia,

b.   Penghasilan    berupa   bunga   yang   diterima   atau   diperoleh   dari   penggunaan uang/dana   baik   yang   digunakan/ditempatkan   di   Indonesia   maupun   di   luar Indonesia,

c.   Penghasilan    dari   kegiatan   usaha   (business    income)   selain   usaha   drilling, penghasilan  lain yang diterima  atau diperolehnya  dalam  bentuk  apapun  dan dari manapun.

Menurut  Pihak Tergugat Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Terbanding  seharusnya  mendefinsikan bahwa yang dimaksud dengan “penghasilan  dari kegiatan usaha (business  income) selain usaha drilling, penghasilan  lain yang diterima atau diperolehnya  dalam bentuk apapun dan dari manapun”,  adalah penghasilan  yang diperoleh dari usaha lain di luar usaha drilling (penghasilan  di luar kontrak pengeboran minyak), yang tidak ada kaitannya dengan kontrak pengeboran/  drilling tersebut.

Hal   tersebut   sesuai   dengan   Pasal   1   Keputusan    Menteri   Keuangan    Nomor   : 628/KMK.04/1991 berbunyi :

1)   Penghasilan  neto wajib pajak bentuk usaha tetap dari kegiatan  usaha pengeboran minyak dan gas bumi dihitung  dengan menggunakan norma penghitungan  khusus sebesar 15% dari penghasilan  bruto.

2)   Penghasilan  neto  sebagaimana  dimaksud  ayat (1) adalah  penghasilan  bruto  dari jenis-jenis penghasilan  yang tercantum dalam kontrak pengeboran  minyak dan gas bumi yang bersangkutan.

3)   Penghasilan   neto  wajib  pajak  bentuk  usaha  tetap  dari  kegiatan  usaha  selain pengeboran  minyak dan gas bumi sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dihitung berdasarkan  ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan  1984.

Menurut Pihak Penggugat  Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Pemohon  menghitung  penghasilan  dengan  mengkonversikan nilai tagihan  dalam  US$ ke mata uang rupiah dengan menggunakan nilai kurs Keputusan  Menteri Keuangan.

Terbanding   menghitung   penghasilan   selisih  kurs  sebagai  unsur  penghasilan   kena pajak, dengan cara menghitung  nilai tagihan dalam mata uang US$ yang dikonversikan dengan kurs tengah Bank Indonesia.

Yang menjadi dasar hukum penggunaan  kurs konversi berdasarkan  Keputusan  Menteri Keuangan  untuk   keperluan   penghitungan    penghasilan    adalah   bahwa   seluruh Keputusan  Menteri Keuangan  mengenai  nilai kurs sebagai dasar pelunasan  Bea Masuk, Pajak  Pertambahan  Nilai Barang  dan Jasa Dan Pajak  Penjualan  atas Barang  Mewah, Pajak Ekspor dan Pajak Penghasilan  yang berlaku sepanjang tahun 2000, di mana pada setiap  bagian  menimbang   menetapkan   :  “Menimbang   :  bahwa  untuk    keperluan pelunasan  Bea Masuk, Pajak Pertambahan  Nilai Barang dan Jasa Dan Pajak Penjualan atas  Barang  Mewah,  Pajak  Ekspor,  dan  Pajak  Penghasilan  atas  pemasukan  barang, hutang pajak yang berhubungan  dengan Pajak Pertambahan  Nilai Barang dan Jasa Dan Pajak  Penjualan  atas  Barang  Mewah,  Pajak  Eskpor,  dan  penghasilan  yang  diterima atau diperoleh  berupa  uang asing,  harus  terlebih  dahulu  dinilai  ke dalam  mata uang rupiah”.

Berdasarkan  hasil pemeriksaan  atas fakta-fakta,  bukti-bukti,  penjelasan  Pemohon  dan Terbanding  yang  terungkap  dalam  persidangan,  penelitian  terhadap  berkas  banding, Majelis berpendapat  bahwa penghitungan  penghasilan  dari tagihan/invoice dalam mata uang  US$ yang  menjadi  dasar  untuk  menghitung  penghasilan  dengan  menggunakan nilai kurs Keputusan Menteri Keuangan sudah benar, dengan demikian atas koreksi penghasilan  luar usaha  berupa  keuntungan  selisih  kurs sebagai  akibat  penghitungan kembali penghasilan dari tagihan/invoice dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia yang dilakukan Terbanding  tidak dapat dipertahankan.

3.   Koreksi kredit pajak Pajak Penghasilan Pasal 23

Menurut  Pihak Tergugat Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Koreksi   kredit   pajak   sebesar   Rp4.417.921.210,00   dilakukan    disebabkan    Pajak Penghasilan  Pasal 23 yang dikreditkan  Pemohon  merupakan  pembayaran  pajak yang seharusnya  tidak terutang.

Menurut Pihak Penggugat  Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Berdasarkan  ketentuan  Pasal 23 Undang-undang Nomor  7 Tahun 1983 tentang  Pajak Penghasilan    sebagaimana   telah  diubah  dengan    Undang-undang  Nomor  10  Tahun 1994, pemotongan   pajak yang telah dilakukan  tidak termasuk  bersifat  final sehingga harus dapat dikreditkan  atau diperhitungkan dengan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.

Tidak setuju dengan koreksi kredit pajak Pajak Penghasilan Pasal 23 sebesar Rp11.763.402,00 atas  dasar  jawaban  konfirmasi  “tidak  ada”,  karena  Pemohon  telah menerima  bukti  potong  DEF  Indonesia  Inc.  dan  pembayaran  jasa  drilling  Pemohon telah  dipotong   pihak  DEF  Indonesia   Inc.  Atas  pemotongan   penghasilan   tersebut Pemohon  menganggap  mempunyai  hak  untuk  mengkreditkan ke dalam  perhitungan Surat  Pemberitahuan  Tahunan   Pajak  Penghasilan   Badan  sesuai  dengan  Pasal  20 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  persidangan  Pemohon  memberikan  bukti  potong  Pajak  Penghasilan  pasal  23 dari    Conoco    Indonesia    Inc.    atas    pembayaran    jasa    pengeboran  sebesar Rp4.417.921.210,00 (Rp4.406.157.808,00 + Rp11.763.402,00).

Untuk kredit pajak sebesar Rp11.763.402,00 yang jawaban konfirmasinya “tidak ada”, Pemohon   dapat   menerima    sehingga   sisa   pokok   sengketa   kredit   pajak   Pajak Penghasilan  Pasal 23 menjadi sebesar Rp4.406.157.808,00.

Berdasarkan  ketentuan  Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 yang menyebutkan  bahwa :

1.   Pajak  yang  diperkirakan  akan  terutang  dalam  suatu  tahun  pajak,  dilunasi  oleh wajib  pajak  dalam  tahun  pajak  berjalan  melalui  pemotongan   dan  pemungutan pajak oleh pihak lain, serta pembayaran  pajak oleh wajib pajak sendiri.

2.   Pelunasan  sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

3.   Pelunasan  pajak sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) merupaan  angsuran  pajak yang  boleh  dikreditkan  terhadap  Pajak  Penghasilan  yang  terutang  untuk  tahun pajak  yang  bersangkutan, kecuali  untuk  penghasilan  yang  pengenaan  pajaknya bersifat final.

Berdasarkan  ketentuan  Pasal 23 Undang-undang Nomor  7 Tahun 1983 tentang  Pajak Penghasilan     sebagaimana   telah  diubah  dengan  Undang-undang  Nomor  10  Tahun 1994,  pemotongan  pajak  yang  telah  dilakukan  pada  Pemohon  tidak  termasuk  yang bersifat  final,  sehingga  harus  dapat  dikreditkan  atau  diperhitungkan  dengan  pajak yang terutang untuk tahun pajak bersangkutan.

Berdasarkan  hasil pemeriksaan  atas fakta-fakta,  bukti-bukti,  penjelasan  Pemohon  dan Terbanding  yang  terungkap  dalam  persidangan,  penelitian  terhadap  berkas  banding, Majelis  berpendapat  bahwa  kredit  pajak sebesar  Rp4.406.157.808,00 tidak termasuk yang bersifat final sehingga  dapat dikreditkan  atau diperhitungkan dengan pajak yang terutang    untuk  tahun  pajak  bersangkutan,  dengan  demikian  koreksi  kredit  pajak sebesar    Rp4.406.157.808,00   tidak    dapat    dipertahankan   sedangkan    sisanya Rp11.763.402,00 tetap dipertahankan.

www.pengadilan pajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02710/PP/M.IX/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT Bank ABC, Tbk.

Jenis Usaha : Perbankan

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 1998

Pokok Sengketa :

Dasar   penerbitan   Surat   Ketetapan   Pajak   nihil   dengan   tidak   ada   pajak terutang, setelah SKPLB

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Berdasarkan   instruksi  Direktur  Jenderal  Pajak  tanggal  16  Oktober  2002  dilakukan pemeriksaan  ulang oleh KPP Wajib Pajak Besar Satu dan menerbitkan  Surat Ketetapan Pajak Nihil, dengan kronologi sebagai berikut :

•       Pemohon    dalam   Surat   Pemberitahuan   Tahunan    Pajak   Penghasilan    Badan melaporkan  kerugian  cabang  luar  negeri  sebesar  Rp5.504.721.447.195,00 yang sesuai  prinsip  Pasal  24  Undang-undang  Nomor  7  Tahun  1983  tentang  Pajak Penghasilan   sebagaimana  telah diubah dengan   Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, seharusnya  kerugian  yang diderita  dari kegiatan  di luar negeri  tidak boleh dikompensasikan dengan keuntungan  dalam negeri.

•       Berdasarkan  laporan keuangan yang telah diaudit, Pemohon memberikan  pinjaman kepada  group  dengan  tingkat  bunga  yang  lebih  rendah  dibandingkan   dengan tingkat    bunga    deposito    untuk    nasabah    sehingga    Terbanding    melakukan adjustment.

Mengakui   bahwa  tidak  terdapat  novum  atau  data  yang  semula  belum  terungkap sehingga  tidak  dapat  menerbitkan   Surat  Ketetapan  Pajak  Kurang  Bayar  Tambahan sebagaimana  diatur  dalam  Pasal  15  Undang-undang  Nomor  6 Tahun  1983  tentang Ketentuan   Umum   dan   Tatacara   Perpajakan   sebagaimana   telah   diubah   dengan Undang-undang Nomor  9 Tahun  1994,  sehingga  produk  dari  pemeriksaan  ulang  ini adalah Surat Ketetapan Pajak Nihil.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Dalam persidangan  menyatakan  bahwa Pasal 15 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan  Umum dan Tatacara Perpajakan   sebagaimana  telah diubah dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994 telah keliru diterapkan oleh Terbanding.

Pada dasarnya  Pemohon  dapat  menerima  pernyataan  Terbanding  dalam  persidangan mengenai    kronologi    pemeriksaan,    namun   Pemohon    tidak   setuju   bahwa   hasil pemeriksaan  ulang yang dilakukan adalah diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Nihil.

Sesuai Pasal 17 A Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan  Umum dan Tatacara  Perpajakan    sebagaimana  telah  diubah  dengan    Undang-undang Nomor  9 Tahun 1994, Surat Ketetapan  Pajak Nihil bukanlah produk yang seharusnya  diterbitkan Terbanding.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Pemohon  menyampaikan  Surat  Pemberitahuan  Tahunan  Pajak  Lebih  Bayar  sebesar Rp10.218.484.397,00.

Terhadap  Surat  Pemberitahuan Tahunan  tersebut  dilakukan  pemeriksaan  pajak  dan telah dikeluarkan  Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar sebesar Rp10.216.984.397,00.

Dalam Surat Ketetapan  Pajak Lebih Bayar tersebut  terdapat  rugi yang diderita  di luar negeri sebesar Rp5.504.721.447.195,00 yang berdasarkan prinsip yang dianut oleh Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 tidak boleh dikompensasikan secara horizontal dengan keuntungan  yang diperoleh dari kegiatan usaha di dalam negeri.

Untuk   tujuan   memperbaiki    produk   hukum   yang   ternyata   tidak   sesuai   dengan ketentuan  Undang-undang Pajak Penghasilan  tersebut,  Terbanding  melakukan pemeriksaan  ulang dengan mengacu  pada ketentuan  Pasal 15 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan  Umum dan Tatacara  Perpajakan   sebagaimana  telah diubah dengan  Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994.

Ternyata  tidak ada data baru (novum)  dan/atau  data yang semula  belum  terungkap sebagaimana   disyaratkan   dalam  Pasal  15  Undang-undang  Nomor  6  Tahun  1983 tentang Ketentuan  Umum dan Tatacara Perpajakan  sebagaimana  telah diubah dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994.

Produk hukum yang dikeluarkan  berdasarkan  hasil pemeriksaan  ulang tersebut adalah Surat Ketetapan Pajak Nihil dengan jumlah yang masih harus dibayar Rp 0,00.

Pasal  17  A  Undang-undang  Nomor  6  Tahun  1983  tentang  Ketentuan   Umum  dan Tatacara  Perpajakan    sebagaimana  telah  diubah  dengan    Undang-undang Nomor  9 Tahun 1994 menyebutkan  : “Direktur  Jenderal  Pajak setelah melakukan  pemeriksaan, menerbitkan  Surat Ketetapan Pajak Nihil apabila jumlah kredit pajak atau jumlah pajak yang  harus  dibayar  sama  dengan  jumlah  pajak  yang  terutang,   atau  pajak  tidak terutang  dan  tidak  ada  kredit  pajak  atau  tidak  ada  pembayaran   pajak”. Dengan Penjelasan  :  “Menurut  ketentuan  Pasal  ini  Surat  Ketetapan  Pajak  Nihil  diterbitkan apabila  : a. untuk Pajak Penghasilan,  jumlah  kredit pajak sana dengan  jumlah  pajak yang terutang atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak”.

Berdasarkan  penelitian  terhadap  Surat Ketetapan  Pajak Nihil, diketahui  bahwa  dalam perhitungan  Surat  Ketetapan  Pajak  Nihil  tersebut  tidak  terdapat  jumlah  pajak  yang terutang   tetapi   terdapat   pembayaran   kredit  pajak  sehingga   sesungguhnya  tidak termasuk  dalam pengertian  Surat Ketetapan  Pajak Nihil sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 17 A Undang-undang Nomor  6 Tahun  1983 sebagaimana  telah diubah  dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994.

Merujuk pada ketentuan  sebagaimana  diatur dalam Pasal 17 A Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang  Ketentuan  Umum dan Tatacara  Perpajakan  sebagaimana  telah diubah dengan   Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994 tersebut,  Majelis berkesimpulan bahwa isi yang tercantum  dalam Surat Ketetapan Pajak Nihil tidak sesuai dengan Pasal 17 A Undang-undang Nomor  6 Tahun  1983  tentang  Ketentuan  Umum  dan Tatacara Perpajakan  sebagaimana  telah diubah dengan   Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994, karenanya Surat Ketetapan Pajak Nihil batal demi hukum.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02751/BPSP/MI/15/2000

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : Badan Kerjasama Apartemen  ABC

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 1993

Pokok Sengketa :

1.   Koreksi positif peredaran  usaha

2.   Tidak diperhitungkan kompensasi  kerugian

1.   Koreksi positif peredaran  usaha

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi positif disebabkan  Pemohon  menghitung  jumlah peredaran  hanya berdasarkan termin yang diterima (termasuk Pajak Pertambahan Nilai) sedangkan Terbanding menghitung berdasarkan prosentase penyelesaian proyek setelah dikurangi Pajak Pertambahan  Nilai 10%.

Koreksi  penghasilan  kotor (termasuk  Pajak Pertambahan  Nilai) di atas oleh Pemohon dicatat sebagai piutang proyek.

Mengingat    angka-angka     tersebut    masih    termasuk    didalamnya    unsur    Pajak Pertambahan  Nilai, maka Terbanding  melakukan  penghitungan  atas peredaran  usaha neto.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Pemohon  keberatan  terhadap  koreksi  peredaran  usaha  sebesar  Rp.228.012.443,00 (Rp.979.737.893,00 – Rp.751.725.450,00)   karena  peredaran  usaha  Pemohon  yang sebenarnya  adalah  sebesar  Rp.751.725.450,00 sebagaimana   yang  telah    Pemohon laporkan dalam Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan  Badan Tahun Pajak 1993.

Penghasilan  untuk tahun 1993 sebesar Rp.751.725.450,00 berasal dari 2 (dua) proyek pemerintah  yaitu:

Penggantian  jembatan K. Tunggorono,  dan Penggantian  jembatan Duwur I.

Seluruh  nilai  kontrak  (termasuk  Pajak  Pertambahan  Nilai)  telah  Pemohon    laporkan sebagai penghasilan.

Dalam  Berita  Acara  Hasil  Pemeriksaan   tahun  1992,  Terbanding     tidak  melakukan koreksi peredaran usaha.

Seluruh    nilai   kontrak    (termasuk    Pajak    Pertambahan    Nilai)   dikurangi    sanksi keterlambatan penyelesaian  pekerjaan dianggap penghasilan.

Jumlah  yang  Pemohon    laporkan  sebagai  penghasilan  tersebut  masih  di atas  harga borongan (tanpa Pajak Pertambahan  Nilai) yang sebenarnya.

Seluruh  harga  borongan   (nilai  kontrak  dikurangi   Pajak  Pertambahan   Nilai)  tanpa dikurangi  sanksi  keterlambatan penyelesaian  pekerjaan  Pemohon    laporkan  sebagai penghasilan.

Jumlah tersebut sesuai dengan prosentase  penyelesaian  fisik.

Jumlah    tersebut    sesuai    dengan    pembayaran    yang    Pemohon      terima    dari bendaharawan.

Berdasarkan  keterangan  tersebut  di atas,  maka  semua  penghasilan  telah  Pemohon laporkan  dalam  Surat  Pemberitahuan, bahkan  penghasilan  yang  Pemohon    laporkan tersebut lebih besar dari yang seharusnya.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Apabila   Terbanding    memakai   dasar   perhitungan    peredaran   usaha   berdasarkan Peraturan   Pemerintah   Nomor  42  Tahun  1983  seharusnya   Terbanding   menghitung peredaran usaha Pemohon   berdasarkan Berita Acara Penyelesaian Proyek bukan menjumlahkan  penghasilan   termiyn  dengan  piutang  proyek  sedangkan   Terbanding pada halaman 7 Laporan Pemeriksaan  Pajak telah menjelaskan  bahwa Pemohon   telah mencatat penghasilan  yang masih dalam piutang sebagai piutang proyek.

Berdasarkan  hasil pemeriksaan  seperti  tersebut  di atas, Terbanding  telah melakukan dua   kali   perhitungan    dalam   menghitung    peredaran    usaha   Pemohon,    dimana penghasilan  yang masih dalam piutang yang telah dicatat oleh Pemohon dalam piutang proyek  sebesar  Rp.325.986.233,00 dijumlahkan  kembali  dengan  penghasilan  termiyn sebesar Rp.751.725.450,00 untuk menghitung peredaran usaha Pemohon   secara keseluruhan,  selanjutnya  Majelis meminta tanggapan  kepada Terbanding  mengenai hal tersebut.

Setelah  melihat  dan meneliti  data-  data yang ada dalam  berkas  banding  Terbanding menyatakan  bahwa memang  benar Terbanding  telah melakukan  dua kali perhitungan atas piutang  proyek  sebesar  Rp.325.986.233,00 dalam  menghitung  peredaran  usaha Pemohon.

Berdasarkan   fakta-fakta,   bukti-bukti,   penjelasan   Pemohon   dan  Terbanding   yang terungkap  dalam  persidangan  dan penelitian  terhadap  berkas  banding,  maka  Majelis berketetapan    koreksi   positif   peredaran   usaha   sebesar   Rp.228.012.443,00  yang dilakukan   oleh   Terbanding    tidak   kuat   untuk   dipertahankan   dan   mengabulkan permohonan  banding Pemohon.

2.   Tidak diperhitungkan kompensasi  kerugian

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Terbanding  dalam persidangan  menyatakan  bahwa dalam laporan   pemeriksaan  pajak dan Surat Uraian Banding tidak dijelaskan mengenai dasar tidak diperhitungkannya kompensasi  kerugian.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Berdasarkan    Surat   Keputusan   Terbanding   No.00007/406/92/  501/93   tanggal   7 Oktober  1993  tentang  kelebihan  pembayaran  Pajak  Penghasilan,  untuk  tahun  1992 Pemohon   telah   dinyatakan   rugi   sebesar   Rp.26.903.187,00,  namun   kompensasi kerugian  tahun  1992 sebesar  Rp.26.903.187,00 tersebut  tidak diperhitungkan dalam Surat   Ketetapan   Pajak   Pajak   Penghasilan   Badan   Tahun   Pajak   1993   dan  Surat Keputusan Terbanding, oleh karena itu Pemohon memohon agar Majelis mempertimbangkannya.

Berdasarkan  keterangan  tersebut  di atas,  maka  semua  penghasilan  telah  Pemohon laporkan  dalam  Surat  Pemberitahuan, bahkan  penghasilan  yang  Pemohon    laporkan tersebut lebih besar dari yang seharusnya.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Sesuai  Laporan  Pemeriksaan  Pajak halaman  17,   rugi menurut  Surat Pemberitahuan adalah sebesar Rp.212.657.036,00.

Dari  penelitian   Surat  Pemberitahuan  Pajak  Penghasilan   Badan  Tahun  Pajak  1993 diketahui bahwa jumlah kerugian sebesar Rp.212.657.036,00 sudah memperhitungkan kompensasi  kerugian sebesar Rp. 27.591.574,00.

Perolehan jumlah kerugian sebesar Rp.212.657.036,00 adalah sebagai berikut: Peredaran usaha                                                             Rp 751.725.450,00

Harga Pokok Penjualan                           Rp 699.847.475,00

Laba Operasi                                           Rp   51.877.975,00

Penghasilan  di luar usaha                        Rp     6.848.396,00

Laba bruto                                              Rp   58.726.371,00

Pengurang penghasilan  bruto

(biaya usaha)                                      (Rp 243.791.833,00) Laba Neto    (Rp 185.065.462,00) Kompensasi  kerugian tahun lalu     (Rp   27.591.574,00) Rugi                                                           (Rp 212.657.036,00)

Dengan demikian Terbanding telah pula melakukan kompensasi kerugian sebesar Rp.27.591.574,00 yang seharusnya jumlah kompensasi kerugian sebesar Rp.26.903.187,00, sehingga  Terbanding  terlalu besar melakukan   kompensasi  sebesar Rp.688.387,00 ( Rp.27.591.574,00– Rp.26.903.187,00).

Berdasarkan   fakta-fakta,     bukti-bukti,     penjelasan  Pemohon  dan  Terbanding   yang terungkap  dalam  persidangan  dan penelitian  terhadap  berkas  banding,  maka  Majelis berketetapan   kompensasi   kerugian  sebesar  Rp.27.591.574,00 yang  dilakukan  oleh Terbanding tidak kuat untuk dipertahankan seluruhnya, kompensasi kerugian yang diperkenankan  hanya   sebesar   Rp.26.903.187,00  sesuai   dengan   Surat  Keputusan Terbanding  Nomor  : 00007/406/92/501/93 tanggal    7 Oktober  1993  tentang  Surat Kelebihan Pembayaran  Pajak Penghasilan  (SKKPP).

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02788/PP/M.VII/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT Motor ABC

Jenis Usaha : -

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 2001

Pokok Sengketa :

Koreksi  peredaran  usaha  berasal  dari  buku  kas  rekening  koran  bank,  buku penjualan

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak : Koreksi peredaran   usaha sebesar Rp.1.037.148.808,00

Penjualan :

Penjualan motor

Penjualan aksesories

Rp 3.568.495.723,00

Rp    133.197.634,00

Dikurangi :
Potongan penjualan aksesories

Jumlah peredaran usaha/penjualan

Rp 1.009.091,00

Rp 3.676.820.629,00

Potongan penjualan motor                                              Rp       23.863.637,00

Berdasarkan  hasil pemeriksaan  terhadap  buku penjualan,  buku besar, rekening Koran, Surat   Pemberitahuan  Masa   Pajak   Pertambahan   Nilai,   besarnya   penjualan   motor sebesar Rp2.531.346.915,00.

Koreksi  dilakukan  menurut  laporan  pemeriksaan   pajak  KPP  Jakarta  Tamansari  Dua yang  bersumber   pada  data  ekstern  yaitu  Majalah  MotorXXX   Edisi  Agustus  2001, ditemukan   adanya  perbedaan   harga  jual  motor  per  unit  dalam  majalah  tersebut dengan harga jual yang dilaporkan Pemohon, sebagai berikut :

Pada  tanggal  31 Oktober  2001,  Pemohon  melakukan  penjualan  motor  tipe  SL 1000 Falco dengan harga Rp162.500.000,00 sedangkan  harga resmi Rp260.000.000,00 (on the road), sehingga berselisih Rp97.500.000,00.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Koreksi atas peredaran  usaha sebesar Rp1.037.148.808,00 yang dilakukan Terbanding yaitu             menghitung      kenaikan     41%      dari     nilai      penjualan     motor     sebesar Rp2.531.346.915,00 sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

Daftar  harga  motor  Aprilia  menurut  Majalah  Motoriders  Edisi  Agustus  2001  adalah sebagai berikut :

SR 125 Sprot Scooter Rp 32.000.000,00
RS 125 GP Racing Replika Rp 60.000.000,00
RS 250 Rp 100.000.000,00
RSV 1000 Mille Rp 240.000.000,00
SL 1000 Falco Rp 260.000.000,00

Daftar harga tersebut  di atas telah tertukar  harga antara tipe RSV 1000 Mille dengan SL 1000 Falco yang mana seharusnya harga SL 1000 Falco adalah sebesar Rp240.000.000,00,     sedangkan        harga                                  RSV          1000       Mille     adalah    sebesar Rp260.000.000,00, hal tersebut  di atas  telah  dikoreksi  oleh  Majalah  MotorXXX  Edisi Agustus 2001.

Penjualan  ke konsumen  dengan  harga  on the road sudah  termasuk  Bea Balik Nama STNK  baru,  sedangkan  untuk  penjualan  ke dealer  Pemohon  menggunakan harga  off the road yang berasal dari harga on the road dikurangi Bea Balik Nama STNK baru dan dikurangi lagi dengan margin keuntungan  untuk dealer.

Terbanding  menetapkan  harga jual motor dengan patokan harga on the road dan tidak memperhitungan kalau sebagian  penjualan  motor  adalah  ke dealer  sebanyak  27 unit dengan  harga off the road, karena bila Pemohon  menjual  ke dealer dengan  harga on the road tanpa memberi margin keuntungan,  tidak akan ada dealer yang mau menjual motor Pemohon.

Dalam hal harga berfluktuatif  dan berbeda, Terbanding  tidak pernah mempertanyakan secara detail dan memperhatikan  kenyataan  yang terjadi dalam penjualan  kendaraan harga price list bukan merupakan  harga mati dan tidak dapat ditawar dan penjual juga perlu  memperhatikan kondisi  pasar  serta  minat  pembeli  dan  cash  flow  perusahaan dalam menentukan harga jual dengan tetap tidak mengabaikan keuntungan yang diharapkan.

Perbedaan  harga  jual  juga  terjadi  dengan  harga  jual  on the  road  dan  off the  road karena  dalam harga price list adalah  harga on the road di mana terdapat  factor BBN atas surat-surat.

Dalam  hal penjualan  1 unit motor  tipe SL 1000 Falco  yang harganya  jauh di bawah harga  pasar,  motor  tersebut  Pemohon  impor  pada  bulan  Juli  2000  sebagai  barang percobaan  pasar  yang  ternyata  sampai  1  tahun  lebih  tidak  ada  peminatnya  sama sekali, sehingga Pemohon jual di bawah harga pasar, namun bila dibandingkan  dengan harga perolehannya  Pemohon masih untuk sekitar Rp12.000.000,00.

Untuk penjualan motor tersebut di atas, terpaksa dilakukan karena apabila tetap dipertahankan  dengan  harga  pasar,  tidak  ada  pembelinya  akibatnya  Pemohon  rugi sehingga mengganggu  cash flow dan menjadi barang mati.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  persidangan  Pemohon  telah  menyampaikan penjelasan  tertulis  tentang  latar belakang,  system  penjualan  dari perusahaan  dan sanggahan  atas  koreksi  peredaran usaha  sebesar  41% atas penjualan  motor  yang didasarkan  pada harga  sebagaimana tercantum  dalam daftar harga jual (price list) dan Pemohon juga menyampaikan daftar harga jual motor dan rekapitulasi  penjualan motor periode tahun 2001.

Daftar   harga   jual   tersebut   hanya   dapat   dipergunakan    sebagai   acuan   dalam menetapkan  harga jual, namun tidak dapat dijadikan  sebagai  dasar untuk melakukan koreksi   peredaran   usaha  Pemohon   karena   seharusnya   peredaran   usaha  dihitung berdasarkan   harga  transaksi  yang  sebenarnya   berdasarkan   bukti-bukti  yang  dapat diyakini kebenarannya.

Berdasarkan   hasil   penelitian   terhadap   harga   jual  (price   list)  yang   disampaikan Pemohon,  bahwa  salah  satu  motor  yang  dijual  di  bawah  harga  jual  sebagaimana tercantum  dalam  majalah/daftar harga  jual  motor  yaitu  1 unit  motor  jenis  Sl 1000 Falco dengan harga jual sebesar Rp162.000.000,00.

Atas penjualan motor tersebut, Pemohon tidak mengalami  keugian karena berdasarkan PIB yang ditunjukkan,  Pemohon  membeli motor tersebut dengan harga pokok sebesar Rp110.000.000,00, dengan demikian Pemohon masih memperoleh  keuntungan.

Berdasarkan  buku  kas dan  rekapitulasi  penjualan  periode  tahun  2001,  jumlah  yang dilaporkan Pemohon dalam Surat Pemberitahuan Tahunan telah sesuai dengan catatan/pembukuan Pemohon,  hanya ada beberapa  motor yang dijual di bawah harga menurut daftar harga jual motor.

Mengenai  kuantitas  barang  yang  dijual,  Terbanding  dalam  persidangan  menyatakan pada  saat  pemeriksaan   tidak  mengetahuinya karena  tidak  ada  daftar  barang  yang dijual,  namun  demikian  setelah  melihat  dan  meneliti  dokumen  yang  disampaikan Pemohon,  Terbanding  menyatakan  dapat  menerima  keterangan  dan bukti-bukti  yang disampaikan  tersebut.

Berdasarkan    hasil   penelitian    terhadap    data/dokumen   dalam    berkas    banding, keterangan  Pemohon  dan  Terbanding  dalam  persidangan  serta  uraian  sebagaimana tersebut di atas, Majelis berkesimpulan bahwa terdapat cukup alasan yang meyakinkan untuk  mengabulkan   permohonan   banding  Pemohon  atas  koreksi  peredaran  usaha, sehingga koreksi tersebut tidak dapat dipertahankan.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02840/PP/M.VI/99/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Putusan Pengadilan Pajak

Penggugat : PT ABC Indonesia

Jenis Usaha : Jasa pengangkutan (freight forwarding) Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun/Masa  Pajak : 2002

Pokok Sengketa : Laba  selisih  kurs  sebesar   Rp961.975.507,00  yang  diperhitungkan  sebagai penghasilan  teratur sebagai dasar dalam menghitung  Pajak Penghasilan Pasal 25  yang  mengakibatkan  adanya   pengenaan   Surat  Tagihan   Pajak  sebesar Rp65.823.600,00

Menurut  Pihak Tergugat Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Untuk  tahun  pajak  2001  yang  mencakup  masa  Januari  sampai  dengan  Desember, Penggugat  telah melaporkan  Surat Pemberitahuan Tahunan  Pajak Penghasilan  Badan dengan status kurang bayar.

Adapun  perhitungan  angsuran  Pajak  Penghasilan  Pasal  25  untuk  masa  tahun  2002 adalah sebagai berikut :

Penghasilan  neto                                                            Rp 293.387.748,00

Pendapatan  tidak teratur :

Keuntungan  selisih kurs                                                  Rp 961.977.994,00

Penghasilan  neto teratur                                                (Rp 668.590.246,00) Penghasilan  Kena Pajak                                                                           (Rp 668.590.000,00) Angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun 2002                                                       Rp                  0,00

Berdasarkan    Pasal   1   huruf   d   Keputusan    Direktur    Jenderal    Pajak   Nomor   : KEP-537/PJ/2000, tidak termasuk dalam penghasilan  teratur adalah keuntungan  selisih kurs dari utang/piutang dalam mata uang asing dan keuntungan  dari pengalihan  harta (capital  gain)  sepanjang  bukan  merupakan  penghasilan  dari  kegiatan  usaha  pokok, serta penghasilan  lainnya yang bersifat insidentil.

Berdasarkan Surat Penegasan Direktur Jenderal Pajak Nomor : S-643/PJ.42/2001, keuntungan    selisih   kurs   yang   merupakan    penghasilan    teratur   adalah   apabila bersumber   dari  kegiatan  usaha  perdagagan   valuta  asing  sebagaimana   yang  lazim dilakukan oleh pedagang valuta asing (money changer) maupun bank, dan keuntungan selisih kurs yang melekat  pada saat realisasi  omset/tagihan serta penghasilan  teratur lainnya (seperti : imbalan jasa, bunga, sewa, dividen dan lain-lain) dari kegiatan usaha apapun  yang  merupakan  objek  pajak.  Keuntungan  selisih  kurs  ini  termasuk  dalam dasar penghitungan  angsuran  Pajak Penghasilan  Pasal 25.  Adapun keuntungan  selisih kurs yang bukan merupakan penghasilan teratur adalah yang berasal dari saldo utang/piutang serta saldo kas/bank  alam valuta asing pada akhir tahun buku dan atau pada  saat pencairan  utang/piutang serta  pemgambilan  kas/bank.  Keuntungan  selisih kurs ini tidak termasuk  dalam  dasar penghitungan  angsuran  Pajak Penghasilan  Pasal 25.

Mengacu pada ketentuan Keputusan  Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-537/PJ/2000 dan  Penegasan   Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  :  S-643/PJ/2000  tersebut  di  atas, bahwa  selisih  kurs yang  termasuk  penghasilan  teratur  adalah  … “keuntungan  selisih kurs yang melekat pada saat realisasi omset/tagihan serta penghasilan  teratur lainnya

…” oleh karena  data yang diberikan  Penggugat  atas selisih  kurs tersebut  tidak dapat memastikan   apakah   atas   keuntungan   selisih   kurs   tersebut   tidak   melekat   pada omset/tagihan serta penghasilan  lainnya  sehingga  Tergugat  berpendapat  bahwa  atas laba selisih kurs sebesar Rp961.975.507,00 merupakan  bagian dari keuntungan  selisih kurs  yang  merupakan  penghasilan  yang  teratur  atau  merupakan  keuntungan  selisih kurs yang sebenarnya  melekat pada omset/tagihan atau penghasilan  teratur lainnya.

Menurut Pihak Penggugat  Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Dalam  Surat  Pemberitahuan  Tahunan  Pajak  Penghasilan   Badan,  Penghasilan   Kena Pajak yang tercantum  sebesar  Rp293.387.700,00 di mana didalamnya  termasuk  juga penghasilan  dari keuntungan  selisih kurs sebesar Rp961.997.994,00 yang berasal dari revaluasi saldo kas/bank dalam mata uang asing.

Dalam  perhitungan  angsuran  Pajak  Penghasilan  Pasal  25  seperti  yang  dicantumkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan  Badan, Penggugat  berpedoman pada Pasal 25 ayat (6) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 jo. Keputusan  Direktur Jenderal  Pajak  Nomor  : KEP-537/PJ/2000 jo. Surat  Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : S-404/PJ.42/2001 Jo. Buku Petunjuk Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan 2001.

Mengacu  pada  peraturan  tersebut  di atas,  maka  dalam  perhitungan  angsuran  Pajak Penghasilan  Pasal 25, Penggugat  telah mengeluarkan penghasilan  tidak teratur berupa keuntungan  selisih  kurs sebesar  Rp961.997.994,00 yang berasal  dari revaluasi  saldo kas/bank dalam mata uang asing.

Dengan  demikian  besarnya  angsuran  Pajak  Penghasilan  Pasal  25 untuk  tahun  2002 sesuai   dengan   Pasal   2  ayat   (3)   Keputusan   Direktur   Jenderal   Pajak   Nomor   : KEP-537/PJ/2000, maka  besarnya  Pajak  Penghasilan  Pasal  25  adalah  Nihil,  sebagai berikut:

Laba/rugi – fiskal                          Rp 293.387.748,00

Dikurangi :

Keuntungan  selisih kurs                Rp 961.977.994,00

Penghasilan  Kena Pajak              (Rp 668.590.246,00) Penghasilan  Kena Pajak                                        (Rp 668.590.000,00) Pajak kurang/lebih  bayar                                          Rp            Nihil

Keuntungan  dan  kerugian  selisih  kurs  pada  dasarnya  merupakan  penghasilan  tidak teratur  sepanjang  bukan  merupakan  penghasilan  dari kegiatan  usaha  pokok,  karena keuntungan  atau  kerugian  selisih  kurs  pada  dasarnya  terjadi  karena  fluktuasi  nilai tukar   rupiah   terhadap   valuta   asing   yang   tidak   dapat   direncanakan   atau  diatur melainkan    sangat  tergantung  pada  kondisi  perekonomian pada  umumnya,  sehigga sifatnya tidak pasti dan sulit diperkirakan.

Oleh karena itu, keuntungan  selisih kurs yang berasal dari pokok  utang/piutang serta saldo  kas/bank   dalam  valuta  asing  pada  akhir  tahun  buku  dan  atau  pada  saat pencairan  pokok  utang/piutang  serta  saldo  kas/bank  tidak  merupakan  penghasilan teratur  dan tidak dimasukkan  dalam  penghitungan  angsuran  Pajak Penghasilan  Pasal 25 tahun pajak berjalan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Menurut  Penggugat,  usaha  pokoknya  adalah  jasa pengangkutan (freight  forwarding), sehingga  tidak  terdapat  hubungan  langsung  antara  usaha  pokok  dengan  selisih  kurs yang terjadi akibat dari penghasilan  yang diterima dalam mata uang asing (US$).

Berdasarkan  keterangan  yang terdapat  di dalam berkas  gugatan  dan penjelasan  para pihak  di  dalam  persidangan,   Majelis  berkesimpulan  bahwa  sengketa   atas  materi gugatan terjadi karena adanya perbedaan penafsiran atas keuntungan selisih kurs sehubungan  dengan  angsuran  masa atas Pajak Penghasilan  Badan  tahun pajak 2002 yang   menurut   Tergugat   merupakan   penghasilan   teratur,   sedangkan   Penggugat menganggap  sebagai penghasilan  tidak teratur.

Karenanya Majelis melakukan penelitian terhadap ketentuan yuridis fiskal mengenai angsuran  pajak dalam  tahun berjalan  yang berhubungan  dengan  penghasilan  teratur dan tidak teratur.

Pasal  25  ayat  (6)  huruf  b  Undang-undang  Nomor  7  Tahun  1983  tentang  Pajak Penghasilan    sebagaimana  telah  diubah  terakhir  dengan  Undang-undang Nomor  17 Tahun    2000   menyatakan    bahwa    “Direktur    Jenderal    Pajak   berwenang    untuk menetapkan  penghitungan  besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal tertentu, yaitu wajib pajak memperoleh  penghasilan  tidak teratur”.

Pasal    1   huruf    d   ketentuan    Keputusan    Direktur    Jenderal    Pajak    Nomor    : KEP-537/PJ/2000   sebagai   peraturan   pelaksanaan    ketentuan   Pasal   25   ayat   (6) Undang-undang Nomor  7 Tahun  1983 tentang  Pajak Penghasilan   sebagaimana  telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 menyatakan  bahwa :

“Penghasilan  teratur adalah penghasilan  yang lazimnya  diterima atau diperoleh  secara berkala  sekurang-kurangnya  sekali  dalam  setiap  tahun  pajak,  yang  bersumber  dari kegiatan  usaha,  pekerjaan  bebas,  pekerjaan,  harta  atau  modal,  kecuali  penghasilan yang telah dikenakan Pajak Penghasilan  yang bersifat final”.

“Tidak termasuk dalam penghasilan teratur adalah keuntungan selisih kurs dari utang/piutang dalam mata uang asing dan keuntungan  dari pengalihan  harta (capital gain)  sepanjang   bukan  merupakan   penghasilan   dari  kegiatan  usaha  pokok,  serta penghasilan  llainnya yang bersifat insidentil”.

Surat   Direktur   Jenderal   Pajak   Nomor   :   S-404/PJ.42/2001   perihal   penegasan penghitungan   besarnya   angsuran   Pajak  Penghasilan   Pasal  25  dalam  hal  terdapat penghasilan  tidak teratur menegaskan  bahwa :

“Keuntungan  atau  kerugian  selisih  kurs  pada  dasarnya  terjadi  karena  fluktuasi  nilai tukar   rupiah   terhadap   valuta   asing   yang   tidak   dapat   direncanakan   atau  diatur melainkan  sangat  tergantung  pada  kondisi  perekonomian pada  umumnya,  sehingga sifatnya tidak pasti dan sulit diperkirakan”.

“Oleh karena itu keuntungan  selisih kurs yang berasal dari pokok utang/piutang serta saldo  kas/bank   dalam  valuta  asing  pada  akhir  tahun  buku  dan  atau  pada  saat pencairan  pokok  utang/piutang  serta  saldo  kas/bank  tidak  merupakan  penghasilan teratur  dan tidak dimasukkan  dalam  penghitungan  angsuran  Pajak Penghasilan  Pasal

25 tahun pajak berjalan. Namun keuntungan  selisih kurs yang diperoleh  dalam rangka kegiatan  usaha  perdagangan   valuta  asing  sebagaimana   yang  lazim  dilakukan  oleh pedagang valuta asing (money changer) maupun bank, termasuk dalam pengertian penghasilan  teratur  yang  diharapkan.  Demikian  pula  keuntungan  selisih  kurs  yang melekat pada omset/tagihan serta penghasilan  teratur lalinnya (bunga, sewa, dividen, dan  lain-lain)  yang  merupakan  objek  pajak  adalah  bagian  dari  penghasilan  teratur tersebut”.

Berdasarkan  penjelasan  tersebut di atas, dapat disimpulkan  bahwa  keuntungan  selisih kurs   termasuk    dalam   pengertian    penghasilan    tidak   teratur   sepanjang    bukan merupakan    penghasilan  dari  kegiatan  usaha  pokok  serta  penghasilan  lainnya  yang bersifat insidentil.

Berdasarkan  penelitian  terhadap  salinan akta pendirian  perseroan  pada Pasal 3 angka 3.1,  dinyatakan   “Maksud  dan  tujuan  perseroan  ialah  bergerak  dalam  bidang  jasa pengurusan  transportasi  (freight forwarding)”.

Berdasarkan  keterangan  dan  pembuktian  tersebut  di  atas,  terbukti  kegiatan  usaha pokok  Penggugat   tidak  berkaitan  dengan  perdagangan   valuta  asing,  sebagaimana dimaksud   dalam   angka   3   Surat   Penegasan   Direktur   Jenderal   Pajak   Nomor   : S-404/PJ.42/2001.

Laba  selsih  kurs  Penggugat  termasuk  dalam  pengertian  penghasilan   lalinnya  yang bersifat  insidentil  karena  pada  dasarnya  terjadi  akibat  fluktuasi  nilai  tukar  rupiah terhadap valuta asing yang tidak dapat direncanakan atau diatur melainkan sangat tergantung  pada kondisi  perekonomian pada umumnya,  sehingga  sifatnya  tidak pasti dan sulit diperkirakan.

Berdasarkan   keterangan   para   pihak   dan   pembuktian   tersebut   di  atas,   Majelis berkesimpulan bahwa tidak terdapat dasar dan alasan yang kuat bagi Tergugat memperhitungkan  keuntungan   selisih   kurs   atas   penghasilan   Penggugat   menjadi penghasilan  teratur sebagai dasar perhitungan  angsuran masa Pajak Penghasilan  Pasal 25 tahun pajak berjalan, karenanya tidak dapat dipertahankan.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02906/PP/M.IX/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT ABC

Jenis Usaha :

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 2000

Pokok Sengketa        :

1.   Koreksi  peredaran  usaha  berasal  dari  rekapitulasi  faktur  pajak  keluaran Rp25.638.000,00

2.   Koreksi  harga  pokok  penjualan  karena  bukti  pendukung  tidak  absah  Rp 367.328.250,00

3.   Koreksi  pengurang   penghasilan   bruto  karena  klasifikasinya  tidak  jelas Rp204.051.595,00

4.   Koreksi    penghasilan     luar    usaha    berasal    aliran    dana    pihak    ke-3 Rp567.379.652,00

1.   Koreksi  peredaran  usaha  berasal  dari  rekapitulasi  faktur  pajak  keluaran sebesar Rp25.638.000,00

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi peredaran usaha sebesar Rp25.638.000,00 berasal dari rekapitulasi  atas faktur pajak keluaran.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Jumlah   rekapitulasi   faktur   pajak  yang  diterbitkan   Pemohon   adalah   sebagaimana dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan sebesar Rp4.110.290.300,00.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Pemohon  dalam  sidang  menyampaikan  bukti  berupa  faktur  pajak  yang  diterbitkan selama tahun 2000 beserta rekapitulasinya.

Berdasarkan  penelitian  dalam  sidang  diketahui  bahwa  sumber  data  yang  digunakan oleh  Terbanding  dalam  menghitung  peredaran  usaha  adalah  sama  dengan  sumber yang digunakan Pemohon.

Jumlah  faktur pajak berdasarkan  Terbanding  adalah sebanyak  195 lembar sedangkan menurut  Pemohon  adalah  sebanyak  182  lembar,  selisih  sebanyak  13  lembar  faktur pajak tersebut disebabkan  hal-hal sebagai berikut:

Dalam  kertas  kerja  pemeriksaan  terdapat  faktur  pajak  Nomor:  EEQWZ-011-0000004 yang  dicatat  dua  kali  dengan  2  (dua)  nomor  invoice  yang  berbeda,  yaitu  Nomor: 00004/WPJ/01/00 dan  Nomor:  000014/WPJ/01/00 dengan  nama  barang  yang  sama yaitu service pallet dan masing-masing sebesar Rp3.588.000,00.

Berdasarkan   bukti  yang  diserahkan   Pemohon  diketahui  bahwa  untuk  faktur  pajak Nomor     :    EEQWZ-011-0000004,    invoice     yang     diterbitkan     adalah     Nomor: 00004/WPJ/01/00 dengan nama barang service pallet sebesar Rp3.588.000,00.

Dalam menerbitkan setiap invoice tersebut, Pemohon menggunakan nomor secara berurutan   dan  setiap  invoice  digunakan   hanya  untuk  menagih   satu  faktur  pajak sehingga menurut Pemohon,  pada bulan Januari 2000, jumlah invoice yang diterbitkan Pemohon  hanya  5 (lima)  lembar  untuk  5 (lima)  faktur  pajak,  sehingga  sangat  tidak mungkin  jika terdapat  dua invoice  untuk  satu faktur  pajak  dan dengan  nomor  yang tidak berurutan.

Dengan    demikian,    Majelis    berkesimpulan   bahwa    atas    faktur    pajak    Nomor: EEQWZ-011-0000004,  invoice   yang   diterbitkan   adalah   Nomor:   00004/WPJ/01/00 sebesar Rp3.588.000,00, sedangkan  untuk invoice Nomor: 000014/WPJ/01/00, Majelis berkesimpulan  bahwa  invoice  tersebut   tidak  terkait  dengan  faktur  pajak  Nomor: EEQWZ-011-0000004 dan  karenanya  tidak  dapat  diperhitungkan  sebagai  peredaran usaha Pemohon.

Untuk  perbedaan  12 lembar  faktur  pajak  yang  lain,  pada  kertas  kerja  pemeriksaan ditemukan adanya nomor faktur pajak dan nomor invoice yang sama, namun oleh Terbanding  dicatat  terpisah  menurut  jenis  barang,  hal  ini  terbukti  dengan  adanya nomor faktur pajak dan invoice yang sama namun untuk jenis barang yang berbeda.

Oleh  karena  sumber  data  yang  digunakan  Pemohon  dan  Terbanding  adalah  faktur pajak  yang  sama,  maka  Majelis  berkesimpulan bahwa  rekapitulasi  yang  dibuat  oleh Pemohon dapat diyakini kebenarannya.

Dengan   demikian    jumlah   peredaran    usaha   menurut   pendapat    Majelis   adalah sebagaimana  perhitungan  Pemohon, dan karenanya koreksi Terbanding  atas peredaran usaha sebesar Rp25.638.000,00 tidak dapat dipertahankan.

2.   Koreksi   harga   pokok   penjualan   karena   bukti   pendukung   tidak   absah sebesar Rp 367.328.250,00

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi  harga  pokok  penjualan   sebesar   Rp367.328.250,00  didasarkan   pada  hasil rekapitulasi  buku pembelian tetapi tidak dapat diakui keabsahan bukti pendukung.

Di dalam neraca Pemohon  tahun 2000, tidak diketahui  adanya pos persediaan  barang sehingga dapat disimpulkan  perincian harga pokok penjualan adalah seluruh pembelian material tahun 2000 ditambah biaya produksi.

Berdasarkan  Laporan Keuangan,  biaya produksi tersebut hanya terdiri dari biaya yang dikeluarkan  untuk  sewa  truck  dalam  rangka  mengirim  pesanan  dan tidak  ada biaya lain.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Sesuai dengan pembukuan  Pemohon  yang didukung  oleh bukti-bukti  pembukuan  yang sah,  bahwa  harga  pokok  penjualan   tersebut  terdiri  atas  biaya  pembelian   barang dagangan  dan biaya-biaya  yang dikeluarkan  sampai dengan barang dagangan  tersebut siap  untuk  dijual  dengan  jumlah  keseluruhan  sebesar  Rp3.994.970.750,00 sehingga jumlah  tersebut  harus  diakui  sebagai  pengurang   peredaran   usaha  yang  Pemohon bukukan sebagai harga pokok penjualan.

Jenis usaha yang Pemohon adalah bidang perdagangan  (trading) sesuai Akta Pendirian Perusahaan  dan  Surat  Ijin  Usaha  Perdagangan   (SIUP),  dimana  pengiriman  barang dilakukan  segera setelah mendapat  order pembelian  (purchase  order) dari pelanggan, sehingga  tidak dibutuhkan  adanya pos persediaan  barang.

Bukti  bon-bon  pembelian  yang  Pemohon  terima  dari  pemasok  merupakan  kuitansi yang sah dengan nilai seluruhnya sebesar Rp3.847.620.750,00, sehingga apabila ditambahkan dengan biaya sewa truck dalam rangka mengirim pesanan sebesar Rp147.350.000,00 maka akan diperoleh harga pokok penjualan sebesar Rp3.994.970.750,00.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  sidang,  Pemohon  menyerahkan  perhitungan  harga  pokok  penjualan  menurut perhitungan  Pemohon  disertai  dengan  bukti  pendukungnya yang  terdiri  dari voucher pengeluaran   uang  dan  kuitansi  pembayaran   yang  didukung  dengan  bukti  transfer melalui bank.

Penyerahan    bukti-bukti    tersebut   pada   dasarnya    merupakan    pengulangan    dari penyerahan  bukti-bukti  kepada Terbanding  yang pada waktu itu oleh Terbanding  tidak dapat diyakini  keabsahannya sehingga  tidak terbukti  Pemohon  menolak  menyerahkan bukti-bukti    tersebut    dan   karenanya    Majelis    berketetapan    mempertimbangkan bukti-bukti  tersebut.

Berdasarkan   bukti-bukti  yang  diserahkan  Pemohon  tersebut,  Majelis  berkesimpulan bahwa  perhitungan  harga pokok  penjualan  menurut  Pemohon  dapat diakui keabsahannya.

Dengan  demikian,   Majelis  tidak  sependapat   dengan  Terbanding   yang  menyatakan bahwa   harga  pokok  penjualan   dikoreksi   sebesar   Rp367.328.250,00  karena   tidak didukung  dengan  bukti yang sah, dan karenanya  koreksi  atas harga pokok penjualan sebesar Rp367.328.250,00 tidak dapat dipertahankan.

3.   Koreksi  pengurang   penghasilan   bruto  karena  klasifikasinya  tidak  jelas sebesar Rp204.051.595,00

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi pengurang penghasilan  bruto sebesar Rp204.051.595,00 terdiri atas :

1.   Biaya handphone                              Rp       6.623.217,00

2.   Biaya koran                                     Rp       1.013.400,00

3.   Biaya pengurusan  dokumen               Rp    15.296.000,00

4.   Biaya perjalanan dinas                      Rp  114.128.500,00

5.   Biaya jamuan kantor                        Rp    32.415.350,00

6.   Biaya keperluan dapur                      Rp       1.774.475,00

7.   Biaya Pajak Penghasilan  Pasal 21      Rp    19.038.263,00

8.   Biaya medic                                     Rp       6.859.000,00

9.   Biaya service kendaraan                   Rp       3.080.500,00

10. Perpanjang  SIM/STNK                       Rp          945.000,00

11. Biaya asuransi                                  Rp       1.444.800,00

12. Pajak jasa giro                                 Rp          820.150,00

13. Biaya bank                                       Rp         612.940,00

Total                                                Rp   204.051.595,00

Rincian pengurang  penghasilan  bruto di dalam buku besar tidak jelas pengklasifikasian biayanya   sehingga   tidak   dapat   digunakan    untuk   menghitung    kembali   jumlah pengurang  penghasilan   bruto  dan  pengklasifikasian  ini  tidak  dapat  dijelaskan  oleh Pemohon.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Sesuai  dengan  pembukuan   Pemohon  atas  biaya  sebagai  pengurangan   penghasilan bruto  terdiri  dari  biaya  penjualan,   biaya  administrasi   dan  umum  dengan  jumlah keseluruhan  sebesar  Rp434.139.996,00 merupakan  biaya yang sesungguhnya dikeluarkan  dan didukung  oleh bukti-bukti  pengeluaran  yang  sah, sehingga  menurut pendapat  Pemohon  biaya  tersebut  harus  diakui  sebagai  pengurangan   penghasilan bruto  dan  biaya-biaya   tersebut   yang  merupakan   objek  pajak  antara   lain  Pajak Penghasilan  Pasal 21 dan Pajak Penghasilan  Pasal 23 telah Pemohon  laporkan  sesuai dengan peraturan perpajakan  yang berlaku.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Pemohon   tidak  menyanggah   secara   konkrit   dan  spesifik   pernyataan   Terbanding mengenai  ketidakjelasan  pengklasifikasian  biaya  pada  buku  besar  terkecuali  untuk biaya  perjalanan  dinas  sebesar  Rp114.128.500,00 dan biaya  jamuan  kantor  sebesar Rp32.415.350,00.

Namun   Terbanding    hanya   mendasarkan    koreksinya    pada   fakta   ketidakjelasan pengklasifikasian dalam buku besar, tidak pada penerapan hukum pajak materiilnya.

Oleh  karena  itu berdasarkan  rincian  biaya  tersebut  dan keterangan  Pemohon  dalam sidang,  Majelis  berpendapat  perlu meneliti  penerapan  hukum  pajak materiilnya,  yaitu bahwa  sebagian  dari biaya  tersebut  adalah  termasuk  kenikmatan  yang diterima  oleh karyawan, keseluruhannya adalah sebagai berikut :

1. Biaya handphone Rp 6.623.217,00
2. Biaya koran Rp 1.013.400,00
3. Biaya pengurusan  dokumen Rp 15.296.000,00
4. Biaya keperluan dapur Rp 1.774.475,00
5. Biaya Pajak Penghasilan  Pasal 21 Rp 19.038.263,00
6. Biaya medic Rp 6.859.000,00
7. Biaya service kendaraan Rp 3.080.500,00
8. Perpanjang  SIM/STNK Rp 945.000,00
9. Biaya asuransi Rp 1.444.800,00
10. Pajak jasa giro Rp 820.150,00

11. Biaya bank                                       Rp         612.940,00

Total                                               Rp      57.507.745,00

Atas   biaya-biaya    tersebut,    seluruhnya    tidak   dapat   dibebankan    sebagai   biaya sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 9 ayat (1) Undang-undang Nomor  7 tahun 1983 tentang  pajak  penghasilan  sebagaimana  telah diubah  dengan  Undang-undang Nomor 10  Tahun   1994  sehingga   koreksi   Terbanding   atas  pengurang   penghasilan   bruto sebesar Rp57.507.745,00 tetap dipertahankan.

Untuk  biaya  berupa  biaya  perjalanan   dinas  sebesar  Rp114.128.500,00  dan  biaya jamuan kantor sebesar Rp32.415.350,00, Pemohon menyerahkan  bukti berupa:

1.   Perincian atas biaya perjalanan dinas dengan bukti-bukti  pendukungnya

2.   Daftar nominatif atas jamuan kantor dengan bukti-bukti  pendukungny

Berdasarkan bukti-bukti tersebut, Majelis berkesimpulan bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan  tersebut  adalah  termasuk  biaya  yang  dikeluarkan  untuk  mendapatkan, menagih  dan  memelihara  penghasilan  sehingga  dapat  dikurangkan  dari  penghasilan bruto sebagaimana  dimaksud  Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 7 tahun 1983  tentang  pajak  penghasilan  sebagaimana  telah  diubah  dengan  Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994.

Dengan   demikian   koreksi   Terbanding   atas  pengurang   penghasilan   bruto  sebesar Rp146.543.850,00 tidak dapat dipertahankan.

4.   Koreksi  penghasilan   luar  usaha  berasal  aliran  dana  pihak  ke-3  sebesar Rp567.379.652,00

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi sebesar Rp567.379.652,00 berasal dari aliran dana pihak ketiga dan pada saat pemeriksaan, Pemohon mengakui sebagai pinjaman dari pihak ketiga yang akan dikembalikan   kemudian   dan  berdasarkan   penelitian   Terbanding,   tidak  ditemukan adanya bukti pengembalian uang sebesar Rp567.379.652,00 sepanjang tahun 2000.

Jika dana tersebut belum dikembalikan  maka statusnya adalah hutang (pinjaman pihak ketiga),  tetapi  pada  laporan  keuangan  Pemohon  Tahun  2000,  tidak  ada  pos hutang lain-lain (pinjaman pihak ketiga).

Karena   alasan   tersebut   di  atas,  dapat  disimpulkan   bahwa   aliran   dana  tersebut merupakan  penghasilan  lain di luar usaha Pemohon.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Dalam Surat Pemberitahuan Tahunan  Pajak Penghasilan  Badan penghasilan  bruto dari luar usaha yang dilaporkan Pemohon adalah sebesar Rp4.127.856,00.

Terbanding  melakukan  koreksi  atas penghasilan  luar usaha  tersebut  didasarkan  atas adanya  arus  uang  masuk  yang  sebenarnya  bukan  bersumber  dari peredaran  usaha, melainkan  dari uang  titipan  sementara  (escrow)  pihak  ketiga  yang  akan  diserahkan kemudian.

Adanya arus uang masuk tersebut adalah akibat adanya perjanjian pemberesan  hutang piutang antara Pemohon dengan PT Wahana Sindhupratama.

Selisih antara penagihan  piutang  dan pembayaran  hutang  PT Wahana  Sindhupratama adalah sebesar Rp34.232.180,00 yang secara otomatis menjadi hak Pemohon.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Terbanding  mendasarkan  koreksinya  pada tiadanya  bukti pengembalian uang sebesar Rp567.379.652,00 sepanjang tahun 2000.

Pemohon    dalam  sidang  menyerahkan   bukti  yang  juga  telah  pernah  disampaikan kepada Terbanding  pada tahapan penyelesaian  sengketa sebelum banding berupa:

1.   Surat  Perjanjian  Nomor:  012/PKPHP/XII/99 tanggal  3 Desember  1999  antara  PT DEF dengan Pemohon untuk melakukan  pemberesan  hutang piutang milik PT DEF

2.   Bukti penagihan piutang dan pembayaran  hutang milik PT DEF oleh Pemohon Berdasarkan  bukti-bukti  yang diserahkan  Pemohon  tersebut,  diketahui  bahwa  jumlah seluruh piutang yang dimiliki oleh PT DEF dan penagihannya dilakukan  oleh Pemohon adalah  sebesar  Rp894.670.380,00 dan  jumlah  seluruh  hutang  yang  dibayarkan  oleh Pemohon   adalah   sebesar   Rp859.438.200,00  sehingga   selisih   antara   piutang   dan hutang PT DEF adalah sebesar Rp35.232.180,00.

Selisih  sebesar   Rp35.232.180,00  tersebut   berdasarkan   perjanjian   antara  PT  DEF dengan  Pemohon,   secara  otomatis   menjadi  hak  Pemohon,   dan  karenanya   selisih hutang piutang tersebut menjadi penghasilan  luar usaha bagi Pemohon.

Tidak    terdapat    sanggahan    dari    Terbanding    mengenai    kemungkinan     jumlah Rp567.379.652,00 telah inklusif di dalam jumlah Rp859.438.200,00.

Dengan  demikian,  Majelis  berkesimpulan bahwa  koreksi  Terbanding  atas penghasilan luar  usaha  sebesar  Rp567.379.652,00  dipertahankan sebesar  Rp35.232.180,00 dan sisanya sebesar Rp532.147.472,00 tidak dapat dipertahankan.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02954/PP/M.VI/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Putusan Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT ABC

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 1998

Pokok Sengketa : Penerapan      norma      penghitungan     penghasilan     neto      karena      tidak menyampaikan SPT Tahunan

Menurut  Pihak Tergugat Atas Kasus Pengadilan Pajak:

Pemohon  tidak menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan  Tahun Pajak 1998. Pemohon    tidak  menyelenggarakan  pembukuan   dengan  benar  dan  tidak  membuat laporan keuangan tahun 1998, sehingga untuk menghitung Pajak Penghasilannya, Terbanding  menggunakan Keputusan  Nomor  : Kep-02/  PJ.7/1991  tanggal   9 Januari 1991.

Terbanding  telah berusaha  meminjam  buku-buku  dan dokumen  yang diperlukan  baik secara lisan maupun dengan mengirimkan  surat beberapa kali, namun Pemohon   tidak memberikan  dokumen tersebut.

Menurut Pihak Penggugat  Atas Kasus Pengadilan Pajak :

Sampai  dengan  diterimanya  Surat  Ketetapan  Pajak  Kurang  Bayar  Pajak  Penghasilan Badan  Tahun  Pajak  1998,  Pemohon    tidak  pernah  diberikan  dan  menandatangani Berita  Acara  Hasil  Pemeriksaan  (BAHP)  dalam  hal Pemohon    tidak  menyetujui  hasil pemeriksaan.

Pemohon   tidak pernah  diberikan  kesempatan  melakukan  pembahasan  akhir (closing conference)  dengan Terbanding  atas hasil pemeriksaan.

Sampai  dengan  diterimanya  Surat  Ketetapan  Pajak  Kurang  Bayar  Pajak  Penghasilan Badan  Tahun  Pajak  1998  Nomor  :  00174/206/98/504/02  tanggal  28  Juni  2002, Pemohon    tidak  pernah  menerima  panggilan  atas  pemberitahuan untuk  mengambil kembali buku-buku,  catatan-catatan, dan dokumen yang dipinjam dan Pemohon  dapat membuktikannya dengan fotokopi tanda terima dokumen tersebut.

Pemohon    juga  mempertanyakan apakah  jangka  waktu  pemeriksaan  yang  demikian lama yaitu 2 (dua) tahun dua (dua) bulan,  terhitung  dari tanggal  Surat Pemeriksaan yaitu 22 April 2000 sampai dengan  tanggal  penerbitan  Surat Ketetapan  Pajak Kurang Bayar  Pajak  Penghasilan   Badan  Tahun  Pajak  1998  Nomor  :  00174/206/98/504/02 tanggal  28 Juni 2002,  serta  tanpa  melalui  prosedur  pemeriksaan  seperti  yang  telah Pemohon   sebutkan sebelumnya diperkenankan dalam norma-norma  pelaksanaan pemeriksaan  pajak.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dalam  rangka  penyelesaian   sengketa  banding  ini  kepada  kedua  belah  pihak  yang bersengketa  telah diundang dan dipanggil secara patut sebanyak 5 (lima) kali.

Pemohon     tidak  pernah  memenuhi   undangan   sidang  dalam  rangka  penyelesaian sengketa  bandingnya,  sedangkan  Terbanding  hanya sekali memenuhi  panggilan  yaitu pada sidang tanggal 18 Maret 2004.

Oleh karena jatuh tempo pemeriksaan  atas sengketa banding ini berakhir pada tanggal 2 Juli 2004, maka kepada kedua belah pihak yang bersengketa  diberikan  kesempatan sekali  lagi  untuk  hadir  yang  terakhir  kalinya  untuk  memberikan   keterangan   dan bukti-bukti  pendukung  dalam  sidang  hari Kamis,  tanggal  10 Juni 2004,  Pukul  09.00 WIB.

Namun  sampai  dengan  sidang  hari Kamis,  tanggal  10 Juni 2004,  kedua  belah  pihak yang  bersengketa  tidak  hadir  dalam  sidang,  Majelis  berpendapat  bahwa  waktu  yang diberikan  kepada kedua belah pihak yang bersengketa  untuk memberikan  keterangan dan  bukti-bukti  terkait  sudah  mencukupi,  dengan  demikian  Majelis  akan  memutus sengketa banding ini berdasarkan  data-data yang ada di dalam berkas banding.

Menurut keterangan Terbanding dalam Surat Uraian Bandingnya, Pemohon   tidak menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan  Badan Tahun Pajak 1998.

Dengan alasan Pemohon  tidak menyelenggarakan pembukuan  dengan benar dan tidak membuat   laporan   keuangan   tahun   1998,   maka   Terbanding   sudah   benar   untuk menghitung  Pajak  Penghasilan  Pemohon    dengan  menggunakan Keputusan  Nomor  : Kep-02/PJ.7/1991 tanggal  9 Januari 1991.

Jenis   pemeriksaan   pajak   yang   dilakukan   Terbanding   adalah   Pemeriksaan   Pajak Sederhana Lapangan, dengan demikian Terbanding dalam hal ini tidak mempunyai kewajiban   untuk   melakukan   pembahasan   akhir   (closing   conference)   atas   hasil pemeriksaan  dengan Pemohon .

Atas  alasan  banding  Pemohon    dalam  Surat  Bandingnya  yang  menyatakan   bahwa Pemohon    tidak  pernah  menerima  panggilan  atas  pemberitahuan untuk  mengambil kembali buku-buku,  catatan-catatan, dan dokumen yang dipinjam dan Pemohon   tidak dapat dibuktikan oleh Pemohon .

Oleh karena  setelah  beberapa  kali (enam  kali) Pemohon   diundang  secara  patut dan diminta  untuk  menyampaikan bukti-bukti  yang  diperlukan  sehubungan  dengan  surat banding    yang    diajukan    oleh    Pemohon,     berdasarkan     ketentuan     Pasal    28 Undang-undang  Nomor  6  Tahun  1983  tentang   Ketentuan   Umum  dan  Tata  Cara Perpajakan   sebagaimana   telah  diubah  terakhir  dengan  Undang-undang  Nomor  16 Tahun   2000  jo.  Pasal  14  Undang-undang  Nomor   7  Tahun   1983  tentang   Pajak Penghasilan   sebagaimana   telah  diubah  terakhir  dengan  Undang-undang  Nomor  17 Tahun 2000 yang ditetapkan  oleh Terbanding  karena  Pemohon   tidak menyampaikan SPT tetap tidak dipenuhi,  maka menurut pendapat  Majelis, karena tidak ada data lain, perhitungan  Terbanding  dalam  melakukan  koreksi  peredaran  usaha  dan menghitung penghasilan  neto berdasarkan  Keputusan  Nomor : Kep-02/PJ.7/1991 tanggal 9 Januari 1991 dengan KLU 0910 sudah benar karena usaha Pemohon sebagai pemborong  bukan bangunan, maka penghasilan  neto dihitung sebesar 15,5% dari peredaran usaha.

www.pengadilanpajak.com

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.02956/PP/M.VIII/15/2004

0 comments

Posted on 15th August 2011 by admin in Kasus PPh Badan

, , , , , , ,

Contoh Kasus Pengadilan Pajak

Pemohon Banding : PT ABC

Jenis Usaha :

Jenis Pajak : Pajak Penghasilan  Badan

Tahun Pajak : 2001

Pokok Sengketa :

1.   Koreksi positif biaya overhead

2.   Koreksi positif biaya PTT

3.   Koreksi positif biaya perjalanan  dinas

4.   Koreksi negatif bunga pinjaman

1.   Koreksi biaya overhead

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi  biaya tersebut  karena Pemohon  membebankan biaya pihak lain (beban  PT X) dan terdapat biaya entertainment.

Koreksi   Terbanding    telah   memenuhi    ketentuan    undang-undang   yang   berlaku, sepanjang tidak ditemukan data lain koreksi tetap dipertahankan.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Atas  pengeluaran  untuk  pihak  lain  ini Pemohon  perhitungkan  di tahun  2002  dalam bentuk  pengurangan/potongan pembayaran  hutang  kepada  pihak  yang bersangkutan yang  Pemohon  akui  sebagai  pendapatan,   atas  biaya  entertainment  Pemohon  telah membuat daftar nominatif.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Dari  bukti  yang  diberikan   oleh  Pemohon   berupa  perincian   pembelian   kayu  yang merupakan  pengeluaran  untuk  pihak  lain dan telah  Pemohon  perhitungkan  di tahun 2002 dalam bentuk pengurangan/potongan pembayaran hutang kepada pihak yang bersangkutan  yang Pemohon akui sebagai pendapatan.

Berdasarkan bukti perincian pembelian kayu, perjanjian jual beli kayu, ledger yang disampaikan  dan penjelasan  Pemohon,  Terbanding  dapat  menerima  pembuktian  dan penjelasan Pemohon.

Mengenai  biaya  entertainment merupakan  biaya  pengurusan  kayu  yang  ditahan  dan Pemohon telah memberikan  daftar nominatif dan bukti pengeluaran  kas.

Dari bukti yang diberikan oleh Pemohon berupa daftar nominatif dan bukti pengeluaran kas  pada   tanggal   15  Nopember   2001   Terbanding   dapat   menerima   pembuktian tersebut.

Berdasarkan  bukti-bukti  serta penjelasan  Pemohon dan Terbanding  dalam persidangan atas  koreksi  positif  biaya  overhead,   Terbanding   dapat  menerima   pembuktian   dari Pemohon dengan demikian koreksi biaya overhead tidak dapat dipertahankan.

2.   Koreksi positif biaya PTT

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Tidak  ada  kepastian  bahwa  beban  tersebut  digunakan  semata-mata  untuk  kegiatan usaha.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Handphone   memang   semata-mata   dipergunakan   untuk   keperluan   bisnis   dimana mobilitas  seseorang  sangat  diperlukan,  pada  saat  dirumah  HP  tersebut  senantiasa dimatikan Pemohon karena privacy Pemohon tidak ingin terganggu.

Karena   masalah   ini   merupakan    sengketa   yang   senantiasa    timbul   pada   saat pemeriksaan  baru pada tahun 2002, Direktur  Jenderal  Pajak mengeluarkan SE bahwa penggunaan  HP dapat diakui 50% nya.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Koreksi  positif  biaya  PTT  berdasarkan   bukti-bukti   serta  penjelasan   Pemohon   dan Terbanding   dalam  persidangan   dan  berdasarkan   SE-09/PJ.42/2002  tanggal  17  Mei 2002  atas  biaya  berlangganan   atau  pengisian  pulsa  dan  penerbitan  telepon  seluler tersebut dapat dibebankan  sebagai sebagai biaya rutin sebesar 50%.

Ketentuan   sebagaimana   diatur  dalam  keputusan   Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : KEP-220/PJ.42/2002   tanggal   18   April   2002   berlaku   untuk   pengeluaran    biaya pemakaian   telepon   seluler  dan  kendaraan   perusahaan   yang  dilakukan   pada  dan setelah  tanggal  18 April 2002,  adapaun  perlakuan  pajak terhadap  pengeluaran/biaya pemakaian  telepon  dan  kendaraan  perusahaan  yang  dilakukan  sebelum  tanggal  18April 2002 pada dasarnya adalah sama, kecuali mengenai  penetapan  beban biaya agar sedapat mungkin didasarkan  atas fakta yang sebenarnya.

Karena pemakaian  telepon seluler untuk tahun 2001, maka diperlakukan  sama sesuai dengan SE-09/PJ.42/2002 tanggal 17 Mei 2002.

Berdasarkan    bukti-bukti    dan   fakta-fakta,    maka    Terbanding    dapat    menerima pembuktian  Pemohon  dan  pengenaan  biaya  tersebut  dihitung  kembali  berdasarkan SE-09/PJ.42/2002 tanggal 17 Mei 2002. Atas biaya berlangganan  atau pengisian  pulsa dan penerbitan  telepon seluler tersebut  dapat dibebankan  sebagai sebagai biaya rutin sebesar 50%, karenanya Majelis berkesimpulan koreksi tersebut dikabulkan  sebagian.

3.   Koreksi positif biaya perjalanan  dinas

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi  ini terdiri  dari  biaya  menghadiri  sidang  BPSP,  bahwa  beban  biaya  ini tidak termasuk  ke dalam  beban  biaya  konsultan  yang  telah  dikenakan  PPh  Pasal  21 dan biaya perjalanan  dinas ke Lombok, beban biaya ini dikoreksi mengingat  Pemohon tidak mempunyai  kaitan usaha di daerah tersebut.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Ini adalah pengeluaran  biaya persidangan  ke Jakarta  untuk proses banding,  biaya ini benar-benar  timbul dalam tahun 2001, dan untuk memperkuat  argumentasi,  Pemohon telah memperoleh  surat penegasan dari Direktur Peraturan Perpajakan.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Pemohon  memberikan   bukti-bukti  berupa  bukti  pengeluaran   kas,  kuitansi  dan  dari bukti tersebut Terbanding  dapat menerimanya  .

Berdasarkan   bukti-bukti  dan fakta-fakta  serta keterangan  Pemohon  dan Terbanding, Majelis berkesimpulan atas koreksi positif biaya perjalanan dinas dapat dibiayakan sebagaimana  dimaksud  Pasal  6 ayat  (2) a Undang-undang Nomor    17 Tahun  2001 sehingga koreksi Terbanding  tidak dapat dipertahankan.

4.   Koreksi negatif biaya bunga pinjaman

Menurut Pihak Terbanding Pengadilan Pajak :

Koreksi tersebut berasal dari pembebanan  bunga atas cadangan dana yang merupakan pinjaman oleh pemegang saham kepada perusahaan.

Menurut Pihak Pemohon Atas Pengadilan Pajak :

Pada kenyataannya tidak pernah terjadi pembayaran  bunga kepada pemegang  saham, jelas  bila  diikuti  dari  flow  keuangan  (kas/bank)  tidak  pernah  terdapat  pengeluaran dana sejumlah itu.

Pendapat Majelis Pengadilan Pajak :

Menurut   Terbanding  koreksi  tersebut  merupakan  pembebanan  bunga atas cadangan modal  yang  merupakan  pinjaman  oleh  pemegang  saham  kepada  perusahaan  sesuai surat Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : S-165/PJ.312/ 1992 tanggal  7 Mei 1992  atas pinjaman tersebut dikenakan bunga.

Berdasarkan  penelitian  terhadap  data dan bukti-bukti  pendukung  yang diberikan  oleh Pemohon diketahui hal-hal sebagai berikut :

Dari laporan  keuangan  tahun  2000 cadangan  modal  tidak ada dan pada tahun  2001 menjadi  Rp1.655.710.000,00 dan telah dilakukan  pengembaliannya pada akhir tahun 2001  sehingga  pada  tahun  2002  dan  tahun  2003  cadangan  modal  di neraca  sudah tidak ada lagi.

Berdasarkan  perkembangan account cadangan modal pada ekuitas Pemohon, diketahui bahwa   cadangan   modal   tersebut   telah   dikembalikan    kepada   pemegang   saham sehingga  Majelis  berkesimpulan cadangan  modal  yang disetor  oleh pemegang  saham tersebut  merupakan   pinjaman  kepada  perusahaan   bukan  merupakan   penambahan modal yang disetor.

Mengenai  surat  Direktur  Jenderal  Pajak  Nomor  : S-165/PJ.312/ 1992  tanggal  7 Mei 1992  atas  pinjaman  tanpa  bunga  dari  pemegang  saham  dapat  dianggap  wajar  dan tidak perlu dilakukan koreksi apabila :

1.1.   Pinjaman  tersebut berasal dari dana milik pemegang  saham pemberi    pinjaman itu sendiri dan bukan berasal dari pihak lain.

Berdasarkan akte notaris diketahui bahwa pemegang saham Pemohon adalah perseorangan  yaitu Sdr. X dan Sdr. Y.

Pemohon  memberikan  rekening  koran  bank  atas nama  Sdr. X dan Sdr. Y dan bukti pengeluaran kas serta bukti penerimaan kas/bank setoran dana kepada Pemohon.

Dari penelitian rekening koran bank atas nama Sdr. X dan bukti pengeluaran  kas dan bukti penerimaan  kas/bank  terbukti  bahwa  cadangan  dana yang diberikan berasal dari pemegang saham.

2.1.   Modal yang seharusnya  disetor oleh pemegang  saham pemberi pinjaman kepada perusahaan  penerima pinjaman telah disetor seluruhnya.

Pemohon   memberikan   bukti  penerimaan   kas/bank   diketahui   bahwa  setoran cadangan  modal tersebut  secara tunai telah disetor dari pemegang  saham yang bersangkutan  .

Berdasarkan  akte  notaris  dan  laporan  keuangan  2001  diketahui  bahwa  modal saham  sebesar  Rp800.000.000,00 atau 8.000  lembar  saham  dan telah  disetor penuh seluruhnya dengan uang tunai kepada Pemohon oleh masing-masing pemegang saham.

3.1.   Pemegang saham pemberi pinjaman tidak dalam keadaan merugi .

Berdasarkan   bukti  SPT  Tahunan   PPh  WP  Orang  Pribadi   1770  tahun  2001 diketahui  bahwa PPh yang kurang bayar adalah sebesar  Rp x2 sehingga  Sdr. X selaku pemegang saham dalam keadaan untung.

4.1.   Perusahaan  penerima  pinjaman  sedang  mengalami  kesulitan  keuangan    untuk kelangsungan  usahanya.

Berdasarkan   SPT  Tahunan   Pajak  Penghasilan   WP  Badan  1771  tahun  2000 diketahui   rugi  fiskal  adalah  Rp  x3,  maka  pada  awal  tahun  2001  terdapat pinjaman dari pemegang saham tanggal 19 Januari 2001.

Terhadap pinjaman dari pemegang saham  tersebut telah dikembalikan  Pemohon pada tanggal 26 Juli 2001 dengan bukti rekening koran HSBC.

Berdasarkan   data   dalam   laporan   pemeriksaan   pajak   nomor   :  LAP-105/WPJ.10/ RP.03/2002   tanggal   6  Agustus   2002,  pemeriksa   menyatakan   bahwa   perusahaan tersebut    sampai    dengan    saat   pemeriksaan    masih    dalam    pengawasan    BPPN sehubungan   dengan  hutangnya   kepada  bank  yang  masih  belum  dibayar  sehingga memang dalam keadaan merugi.

Berdasarkan    hasil   pemeriksaan    atas   bukti-bukti   dan   penjelasan   Pemohon   dan Terbanding yang terungkap dalam persidangan, Majelis berpendapat bahwa setoran cadangan  modal  kepada  perusahaan  dianggap  wajar  dan  telah  memenuhi  keempat unsur dalam surat Direktur Jenderal Pajak Nomor : S-165/PJ.312/ 1992 tanggal 7 Mei 1992, dengan  demikian  Majelis  berketetapan  koreksi  Terbanding  atas koreksi  negatif biaya bunga pinjaman tidak dapat dipertahankan .

www.pengadilanpajak.com